KEARIFAN EKOLOGI DALAM PUISI “HUJAN BULAN JUNI”
KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO
Sebagai
media yang memberikan kesenangan, karya sastra memiliki daya tarik tersendiri
bagi penikmatnya, yaitu menumbuhkan rasa ingin tahu yang mendalam terhadap karya-karya
yang mereka kagumi. Pada saat yang sama yakni sebagai pemahaman, sastra
digunakan sebagai ilmu pengetahuan di samping kekuatan imaji yang disajikannya.
Dengan demikian, kesenangan dan pemahaman menjadi satu kesatuan dalam karya
sastra, hal tersebut memungkinkan pembaca memperoleh kesenangan dan pemahaman
dari karya sastra yang diapresiasi.
Sastra
sebagai karya imajinasi juga menghadirkan perdebatan antara imajinasi, mimpi
dan kenyataan. Baik itu puisi, prosa, cerita pendek, maupun novel. Karya sastra
mencakup dua jenis sastra (genre), yaitu prosa dan puisi. Seringkali prosa
disebut prosa bebas, sedangkan puisi adalah karangan bebas. Puisi merupakan cabang
sastra yang menggunakan kata-kata sebagai media penyampaian untuk membangkitkan
fantasi dan imajinasi, seperti lukisan yang menggunakan garis dan warna untuk
menggambarkan pikiran seniman. Puisi juga diartikan sebagai “membuat” dan “pembuatan”,
karena melalui puisi pada dasarnya seseorang menciptakan dunianya sendiri yang
dapat berisi informasi atau gambaran tentang situasi tertentu, baik fisik
maupun mental. Salah satunya adalah kumpulan puisi “Hujan Bulan Juni” karya
Sapardi Djoko Damono yang mengangkat banyak kehidupan nyata menjadi sebuah
karya puisi dan bernilai estetika tinggi.
Bagi
sebagian penyair, puisi sering digunakan sebagai alat komunikasi untuk
menyampaikan informasi kepada pembaca. Meski pesan yang disampaikan terkadang
abstrak, bagi mereka puisi menjadi media paling ampuh untuk menyampaikan apa
yang ingin mereka sampaikan. Puisi memiliki kekuatan dan keistimewaan berupa
makna yang dalam. Kata-kata yang pendek dan padat dapat membawa makna, pikiran,
dan informasi yang disampaikan pengarang tanpa harus memberikan kata-kata yang panjang.
Nilai puisi tetap terjaga meski dalam bentuk jalinan pendek sesuai keinginan
pengarang. Penyair bebas memilih kata untuk keindahan dan keunikan namun tetap
mengusung ide atau konsep dan nilai dalam kehidupan bermasyarakat.
Dalam mengungkapkan pikirannya, penyair
tidak dapat melakukannya tanpa adanya latar belakang dan lingkungan yang
menyertai (alam semesta). Dalam konteks ini, jika sebuah karya sastra dapat
dikatakan sebagai penyalur ide penulis atau penyair yang kemudian
dikomunikasikan kepada pembaca, berarti puisi telah mampu menjadi bagian dari
komunikasi tersebut. Karena karya sastra puisi pada hakikatnya adalah ungkapan
perasaan, pengalaman, dan pendapat penyair. Karya sastra ditulis atau
diciptakan oleh penyair bukan untuk dibaca sendiri, tetapi memuai ide, gagasan,
pengalaman, dan informasi serta amanat untuk disampaikan kepada pembaca. Dengan
harapan, apa yang disampaikan menjadi masukan agar pembaca dapat menarik
kesimpulan dan memaknainya sebagai sesuatu yang bermanfaat bagi perkembangan
hidupnya.
Berdasarkan uraian di atas dapat membuktikan
bahwa karya sastra dapat mengembangkan kehidupan dan lingkungan alam. Oleh
karena itu beberapa penyair seperti Sapardi Djoko Damono dalam puisinya kerap
mengkaitkan puisi-puisinya dengan lingkungan alam, misalnya dalam puisi Hujan
Bulan Juni, Hatiku Selembar Daun, mawar dan Bungan Rumput dll. Berdasarkan hal
tersebut penulis mengapresiasi puisi karya Sapardi Djoko Damono dengan
pedekatan ekologi sastra sebagi pisau bedah kritik sastra kali ini.
Ekologi
dapat didefinisikan sebagai studi ilmiah tentang pola hubungan tumbuhan, hewan,
dan manusia satu sama lain dan dengan lingkungan. Kritik dapat diartikan
sebagai bentuk penilaian dan ekspresi kualitas baik atau buruk suatu hal.
Secara sederhana, ekokritik dapat dipahami sebagai kritik lingkungan. Menurut Greg
Garrard (2004), ekokritik mengeksplorasi cara-cara bagaimana kita membayangkan
dan menggambarkan hubungan antara manusia dan lingkungan dalam berbagai bidang
keluaran budaya, sedangkan ekokritik itu sendiri dapat terbatas pada hubungan
antara karya sastra dan penelitian hubungan lingkungan fisik.
Urgensi
ekokritisisme dalam puisi “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono dapat
secara nyata disampaikan dengan menggunakan sejumlah pertanyaan mengenai bagaimana
alam direpresentasikan dalam puisi tersebut, peranan apa yang dapat dimainkan
oleh latar fisik (lingkungan) dalam alur karya sastra tersebut, dan apakah
nilai-nilai yang diungkapkan dalam sebuah puisi tersebut sinkron serta memiliki
konsistensi dengan kearifan ekologis (ecological wisdom). Sebelum
membahasa lebih jauh mengenai kritik sastra ekologis dalam puisi Hujan Bulan
Juni karya
Sapardi Djoko Damono simaklah terlebih dahulu puisi tersebut di bawah ini.
HUJAN
BULAN JUNI
tak ada yang lebih tabah
dari hujan bulan juni
dirahasiakannya rintik rindunya
kepada pohon berbunga itu
tak ada yang lebih bijak
dari hujan bulan juni
dihapuskannya jejak-jejak kakinya
yang ragu-ragu di jalan itu
tak ada yang lebih arif
dari hujan bulan juni
dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap akar pohon bunga itu
Sapardi Djoko Damono (1989)
Pada Puisi Hujuan Bulan Juni di
atas penyair
Mendominasi ungkapkan diksi dengan representasi Alam, Bumi dan Tumbuhan.
Penyair mencoba menelusuri tentang bagaimana kita
membayangkan
dan menggambarkan hubungan antara manusia, lingkungan, alam dan tumbuhan. Dengan
demikian dapat meningkatkan kepedulian manusia agar senantiasa meliharaan dan melindungi
semestanya.
Nilai ekologis yang ditemukan dalam
puisi di atas ialah bahwa pohon berbunga akan selalu merindukan tetesan air
hujan. Karena itulah peran manusia terhadap lingkungan adalah untuk selalu
menjaga dan merawat agar pohon-pohon tetap tumbuh dan bunga sehingga dapat
memberikan keindahan. Hujan yang turun ke bumi merupakan anugrah bagi keberlangsungan
dan kelestarian bumi. Oleh karena itu, manusia harus menjalani kehidupan dengan
bijak agar tidak menimbulkan bencana seperti banjir atau kerusakan alam serta
himbauan kepada Manusia harus bersifat Tabah, Arif dan bijaksana seperti yang
tergambarkan pada lingkungan seperti air dan pohon dan bunga sehinga tidak
menibulkan pencemaran dan kerusakan alam.
Puisi Hujan Bulan Juni karya
Sapardi Djoko Damono di atas memiliki nilai positif karena nilai ekologis atau
nilai kepedulian terhadap alam dan lingkungan di sorot untuk memberikan kesan
dan informasi kepada pembaca. Hal ini sesuai dengan latar belakang penulis,
karena Sapardi Djoko Damono telah menekuni hobi berburu di hutan sejak kecil,
sering menghabiskan waktu di kebun dan hutan. Oleh karena itu, beberapa puisi
Sapadi Djoko Damono didominasi oleh konsep-konsep yang berkaitan dengan alam,
bumi dan lingkungan. Seperti pada puisi Hujan Bulan Juni, Hatiku Selembar
Daun, Hutan Kelabu, Angin, Bunga, dan beberapa puisi lainnya.
Perhatika
kutipan puisi berikut.
Dibiarkannya yang tak terucapkan
diserap
akar pohon bunga itu
Pada penggalan puisi di atas
ditemukan penggunaan majas perumpamaan. Majas perumpamaan adalah
salah satu jenis majas dengan
bahasa kias. Fungsi majas perumpamaan adalah sebagai bentuk istilah yang
membawa imajinasi pembaca.
Kaitannya dengan hal tersebut, diantaranya berhubungan dengan logika. Lebih
jelasnya adalah agar maksud dan tujuan penulis tersampaikan oleh pembaca. Majas
perumpamaan sering kita jumpai dalam puisi, khususnya seperti dalam jenis puisi bebas. Majas ini
sering digunakan penulis agar pembaca mudah memahami perbedaan
prosa, puisi, dan drama.
Diantara banyak puisi ciptaan Sapardi
Djoko Damono, saya menaruh daya tarik lebih terhadap puisi Hujan Bulan Juni,
Sapardi dalam puisinya tersebut memilih konsep dan memilah diksi yang unik
yakni unsur alam. Ia mencoba memberi nasihat dengan cara estetik nan epik.
Menciptakan suhu yang berbeda dengan mengaitkannya dengan alam seperti hujan,
akar, pohon dan bunga sebagai bentuk ungkapan makna cinta dan rindu. Sehingga pemilihan
pisau bedah ekologi sastra sangat ambuh dalam mengupas makna serta tujuan puisi
di ciptakan.
REFERENSI:
Grrand,
Greg. 2004. Ecocriticism. New Yord : Routledge.


0 Komentar
Halo kamu.. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk singgah dan membaca. Kritik serta saran juga penulis butukan untuk mengembangkan segala aspek pendukung dalam blog ini. Tulis komentar mu dengan bahasa yang baik ya^^ karena segala sesuatu yang baik akan memberikan buah yang baik pula kepada mu.