BABAT SIDUNG PARLEMEN DALAM CERPEN "DI DEPAN GEDUNG PARLEMEN" KARYA M. SHOIM ANWAR

 SEBUAH KAJIAN KONFLIK SOSIAL

Sebuah karya sastra terkadang menyiratkan suatu kehidupan nyata tak terkecuali karya sastra yang diciptakan oleh M. Shoim Anwar dalam buku kumpulan cerpen “Tikus Parlemen”. Dalam setiap karyanya, M. Shoim Anwar mampu memanfaatkan realita yang menjadikan kehidupan masyarakat sebagai ide dalam menciptakan suatu karya sastra yang penuh dengan rasa. Hal demikian dilakukan sebab sebagaimana fungsi sejati dari karya sastra yang memang diciptakan untuk menggambarkan sebuah realita dari kehidupan manusia. 

    Salah satu bentuk karya sastra yang sangat populer di masyarakat kita hingga kini adalah cerpen. Cerpen merupakan karya sastra berbentuk tulisan narasi yang dapat membawa pembacanya masuk ke dalam sebuah alam imajinasi sehingga pembaca merasa cerpen tersebut sangat realistis. Begitu nyatanya cerita yang dinarasikan dalam sebuah cepen, terkadang membuat para pembacanya masuk ke dalam alam cerita dan merasa seolah-olah menjadi saksi dalam kisah yang diceritakan dalam cerpen tersebut. Seperti halnya yang saya alami ketika membaca dan menikmati setiap helaian kalimat yang ditulis oleh M. Shoim dalam cerpennya yang berjudul "Di Depan Gedung Parlemen". Saya selaku pembaca selalu dapat mengahdirkan visual yang sangat realistis, pembangunan suasana yang runtut dan terperinci, perwatakan setiap tokoh yang komplek dan kandungan amanat yang selalu membuat jiwa pembaca luluh merasa harus berterima kasih. Keadaan tersebut membuat visualisasi pembaca dapat dilahirkan layaknya sedang berada dan hadir dalam situasi atau kisah-kisah yang penulis ciptakan.

Berdasarkan pengalaman di atas, dapat dikatakan bahwa M. Shoim Anwar telah mampu memberikan gambaran kehidupan manusia yang luar biasa pada setiap cerpen yang Ia tuliskan, terkhusus dalam cerpennya yang berjudul "Di Depan Gedung Parlemendalam buku kumpulan cerpen “Tikus Parlemen. Penulis selalu berhasil memberikan visualisasi kehidupan yang dapat dijadikan sebagai cerminan bagi pembaca dalam mengambil pelajaran akan sikap hidup yang dikandungnya. Secara garis besar cerpen yang berjudul "Di Depan Gedung Parlemendalam buku kumpulan cerpen “Tikus Parlemen” karya M. Shoim Anwar ini bercerita mengani problematika yang dialami oleh Ketua Parlemen terkait fenomena buang air besar secara sembarangan yakni disungai. Menurut Ketua Parlemen peristiwa ini telah menjadi kebiasaan dan budaya serta momok utama yang melahirkan citra buruk bagi bangsa Indonesia sehingga fenomena "jorok" tersebut harus segara di basmi meskipun melalui segala halarintang. Selain konflik mengenai fenomena BAB di sungai, terdapat beberapa permasalahan lain yang timbul. Permasalahan tersebut hadir secara paralel hingga menghadirkan persoalan yang tidak dijelaskan bagaimana cara Ketua Parlemen menuntaskan deretan konflik tersebut. Kendati demikian, persoalan mengenai fenomena BAB di sungai masih menjadi fokus utama dalam cerpen ini serta mendominasi pada setiap helaian konflik yang diciptakan dalam kisah pada cerpen "Di Depan Gedung Parlemen".

Sejatinya cerita yang dibuat dengan memunculkan kejadian-kejadian atau konflik seharusnya mampu membuat tokoh dalam cerita bisa bersikap bijaksana atau bisa mengambil sikap yang sesuai dalam menghadapi pertikaian yang akan merubah nasib mereka. Biasanya konflik tersebut muncul bilamana kepentingan-kepentingan masyarakat yang bersifat majemuk tidak sepenuhnya dapat terpenuhi. Untuk itu, konflik dapat difungsikan sebagai pengontrol bagi pemenuhan kebutuhan dan kepentingan masyarakat. Namun kekurangan pada cerpen "Di Depan Gedung Parlemen" ini adalah tidak adanya tindak dan perbuatan yang mengarah pada proses perubahan menjadi lebih baik. M. Shoim Anwar membuat ending cerita yang kurang memuaskan, sebab sekian banyak permasalahan tersebut belum ada yang dapat teratasi justru konflik digambarkan menjadi kian parah sebab pemenuhan kebutuhan dan kepentingan tersebut menjadi suatu ihwal yang mustahil atau tidak terlaksana. 

    Cerpen "Di Depan Gedung Parlemen" adalah cerpen dengan rel permasalahan yang memanjang hingga di ujung akhir cerita untuk itulah dalam kegiatan analisis kali ini akan digunakan kajian atau menggunakan teori konflik sebagai bahan pijakan. Sehubungan dengan kajian konflik, Webster mengatakan dalam bukunya Dean G. Pruitt dan Jeffrey Z. Rubin istilah “conflict” di dalam bahasa aslinya berarti suatu “perkelahian, peperangan, atau perjuangan”, yaitu berupa konfrontasi fisik antara beberapa pihak. Kemudian istilah “conflict” ini menjadi meluas dan tidak hanya terbatas pada konfrontasi fisik tetapi menyangkut aspek psikologis, dan konflik hampir ditemukan dalam segala aspek interaksi kehidupan umat manusia. Lebih lanjut Webster memberikan batasan yang lebih luas yaitu bahwa konflik berarti persepsi mengenai perbedaan kepentingan (perceived divergence of interest), atau suatu kepercayaan bahwa aspirasi pihak-pihak yang berkonflik tidak dapat dicapai secara simultan. 

Kepentingan disini adalah perasaan orang mengenai apa yang sesungguhnya ia inginkan, dan ini menjadi sentral pemikiran yang melandasi tindakan seseorang, yang membentuk inti dari banyak sikap, tujuan, dan niatnya. Kepentingan dimaksud ada yang bersifat universal dan ada yang bersifat spesifik. Kepentingan yang bersifat universal dimaksud antara lain kebutuhan, rasa aman, kebahagiaan, kesejahteraan. Keinginan yang bersifat spesifik seperti bangsa Palestina ingin untuk memiliki tanah airnya. Sebelum kepentingan satu pihak dapat bertentangan dengan kepentingan pihak lain, kepentingan-kepentingan tersebut harus diterjemahkan ke dalam suatu aspirasi, yang didalamnya terkandung berbagai “tujuan” dan “standar”. Tujuan adalah akhir dari suatu perjuangan, sedangkan standard adalah tingkat pencapaian minimal yang lebih rendah, sehingga orang menganggapnya sebagai sesuatu yang tidak memadai.

Elly (dalam Sadiyah dan Faisol 2017:355) menjelaskan bahwa faktor penyebab konflik ada empat: 1) perbedaan antar individu, 2) benturan antar –kepentingan baik: secara ekonomi ataaupun politik, 3) perubahan sosial, 4) perbedaan kebudayaan. Kemudian Stanton (dalam Mahrita, 2016:94) menyatakan bahwa konflik dibedakan menjadi dua kategori, yaitu konflik internal dan eksternal. Konflik internal atau kejiwaan adalah konflik yang terjadi dalam hati jiwa seorang tokoh cerita. Jadi, konflik ini adalah konflik yang dialami manusia dengan dirinya sendiri, sedangkan konflik eksternal adalah konflik yang terjadi antara seorang tokoh dengan sesuatu dengan di luar dirinya. Konflik eksternal ini dibedakan dalam dua kategori lagi oleh Jones (dalam Mahrita, 2016:94), yaitu 1) konflik fisik dan 2) konflik sosial. 1) Konflik fisik adalah konflik yang disebabkan oleh adanya perbenturan antara tokoh dengan lingkungan alam; dan 2) Konflik sosial adalah konflik yang disebabkan oleh adanya kontak sosial atau masalah-masalah yang muncul akibat adanya hubungan antar manusia.

Setelah membaca dan melakukan analisis terhadap keselurahan cerita dengan berpijak pada kajian konflik maka dapat ditemukan delapan konflik dalam cerpen yang berjudul "Di Depan Gedung Parlemenpada buku kumpulan cerpen “Tikus Parlemen” karya M. Shoim Anwar. Delapan konflik tersebut terdiri atas: Satu bentuk konflik eksternal fisik; Enam bentuk konflik eksternal sosial; dan satu bentuk konflik internal atau kejiwaan. Berikut penjabarannya:

  1. Konflik Eksternal bentuk fisik mengenai permasalahan penanaman pohon di depan gedung parlemen. Terdapat pada halaman 44-45 yang tergambar pada dialog berikut.

      2.  Konflik Eksternal bentuk sosial mengenai permasalahan orang berak di sungai yang             berada tepat  di depan gedung parlemen. Terdapat pada halaman 46-48 yang                           tergambar pada dialog berikut.


    3. Konflik Eksternal bentuk sosial mengenai kasus  pembebasan tanah yang dilakukan              oleh rombongan desa Tabungan. Terdapat pada halaman 50 yang tergambar pada                  dialog berikut.

    4. Konflik Eksternal bentuk sosial mengenai perbedaan pendapat dalam pengambilan                keputusan terkait fenomena berak di sungai. Terdapat pada halaman 55 yang                          tergambar pada dialog berikut.

    5. Konflik Eksternal bentuk sosial mengenai segerombongan orang muda mendatangani            gedung parlemen pada hari kelima. Terdapat pada halaman 56 yang tergambar pada              dialog berikut.

   
   6. Konflik Eksternal bentuk sosial mengenai segerombolan orang memporak-porandakan         kemah di depan gedung parlemen, memukuli warga tabuhan secara bertubi-                           tubi. Terdapat pada halaman 57 yang tergambar pada dialog berikut.
   7. Konflik Eksternal bentuk sosial mengenai parade pantat dan bergelantungannya kutang         dan celana dalam yang dilakukan oleh orang-orang dari desa Tabungan. Terdapat pada           halaman 59-60 yang tergambar pada dialog berikut.


      8. Konflik Internal atau kejiwaan mengenai naluri ketua parlemen dalam menuntaskan              fenomena BAB sembarang dan pengadaan fasilitas sanitasi untuk masyarakat.                        Terdapat pada halaman 53 yang tergambar pada dialog berikut.





    Senada dengan cerpen-cerpen M. Shoim Anwar yang lainnya, cerpen yang berjudul "Di Depan Gedung Parlemen" ini juga berada dalam suasana realitas yang kental. Merujuk pada indentitas cerpen ini yang meraup fenomena BAB di sungai sebagai tema pokok menjadikan saya bagaikan gelas kosong karena lagi-lagi saya dapat membuka mata dan memperoleh informasi baru bahwasanya fenomena BAB di sungai MASIH ADA dan terbudidayakan di Indonesia. 
    Cerpen "Di Depan Gedung Parlemen" membuktikan bahwa budaya buang hajat ke sungai telah mengakar setua peradaban manusia yang tumbuh di bantaran sungai itu sejak zaman pra sejarah. Salah satu wilayah atau kota di Indonesia yang masih mendayagunakan sungai sebagai tempat BAB adalah pemukiman di dekat sungai Ciliwung. Dalam Website POKJA AMPL (20/2014) di tuliskan bahwa Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional DKI Jakarta yang melakukan eskavasi antara tahun 1968 dan 1984 menemukan beragam artefak sepanjang sisi Ciliwung yang diperkirakan berasal dari masa 2.000-1.500 tahun silam. Ketika Indonesia merdeka dan Jakarta tumbuh sebagai ibu Kota Negara nan metropolis dengan gedung-gedung pencakar langitnya, peradaban pra sejarah buang hajat ke sungai tak hilang di sepanjang sungai itu. Menurut laporan bersama WHO dan UNICEF Mei 2014, Indonesia menempati peringkat ke-2 sanitasi terburuk di dunia. Menurut laporan itu, masih ada 54 juta masyarakat Indonesia yang buang air besar (BAB) sembarangan di sungai, laut, atau di permukaan tanah. Dari angka itu, satu juta orang yang buang air besar sembarangan ada di Jakarta. Meskipun telah dilakukan sosialisasi namun budaya BAB sembarangan belum mampu di kambing hitamkan dengan zaman. Hal tersebut membuktikan bahwa Kebiasaan Adalah Kunci atau bahasa kerennya The Power of Habit.


SERAMBI ILUSTRASI 







0 Komentar

Terima kasih telah singgah sejenak dan membaca aksara di serambi sastra.

Saatnya berbuat dan berkarya, susun rencana sekarang juga, mulailah secepatnya. -Najwa Shihab