Cerpen “Tikus
Parlemen” merupakan cerminan produk budaya yang kreatif yang ditulis oleh novelis handal, M. Shoim Anwar. M. Shoim selalu berhasil menciptakan
dan memberikan kesan yang sangat berharga bagi pembaca untuk mencerna makna
kehidupan melalui amanat yang diselipkan di setiap
karya-karyanya. Dengan menangkap amanat dalam karya sastra, pembaca akan lebih
kritis dalam berpikir dan memaknai kehidupan ini.
Cerpen “Tikus
Parlemen” yang ditulis pada 17 November 2002 ini bercerita
tentang gejolak komplotan tikus yang memicu berbagai konflik di seluruh penjuru
kota. Menciptakan huru-hara yang mampu
membuat semua anggota parlemen dan
seluruh masyarakat kualahan. Gedung parlemen
di jadikan sebagai markas besar para komplotan tikus hingga mereka mampu
membuat dan membuka delegasi Akbar yang Masyur di
dalamnya.
Tikus-tikus itu pun mampu membuat siapapun yang menatap menjadi geram. Hingga
di akhir cerita dikisahkan jajaran parlemen hingga masyarakat
sepakat untuk membakar markas besar tersebut guna memusnakan susur galur
komplotan tikus congkak itu.
Seperti
cerpen-cerpen sebelumnya, M. Shoim Anwar melempar
sehelai benang merah yang menjulur ke visualisasi pembaca terhadap suatu peristiwa lampau yang pernah
terjadi di Paris Van East Java. Suatu fenomena yang terkait dengan pandemi sampar
dan berujung dengan bakar-membakar. Sehingga Cerpen “Tikus Parlemen” karya
M.Shoim Anwar sangat menarik untuk dikaji dengan teori poskolonial sebagai bahan pembelajaran bagi pembaca juga sebagai bahan pengingat
bagi pihak berwenang dalam menangani suatu wabah.
Sebelum
melangkah lebih jauh, terlebih dahulu perlu diketahui dan dijelaskan apa itu
Poskolonialisme. Kata
poskolonialisme (postcolonialism) terdiri dari awalan post-, kata
dasar koloni; dan akhiran -isme.
Awalan post- sebagai penanda waktu yang berarti setelah; tetapi, post- bukan
hanya menyangkut waktu (McHale, 1987); melainkan sebuah konsep yang menyangkal
tentang wacana kolonialisme.
Penjelasan di atas,
mengisyaratkan poskolonialisme menciptakan kehidupan rasisme, relasi kuasa yang timpang, budaya
subaltern, hibrida, dan kreativitas melalui kesadaran dan gagasan,
daripada
propaganda perang dan kekerasan fisik. tetapi didialektikakan melalui kesadaran atau
gagasan. Dengan perkataan lain, postkolonialisme sebagai
alat atau perangkat kritik yang melihat dengan “jelas” bagaimana masyarakat budaya, sosial dan ekonomi didorong untuk
kepentingan penguasa atau kelas pusat. Postkolonial berusaha untuk membongkar mitos
"mengerdilkan" kekuatan yang menentukan mendominasi hegemoni melalui gerakan budaya dan
kesadaran halus. Karena itu, poskolonialisme dapat dikatakan sebagai perlawanan sehari-hari.
Ciri utama teori
kritis dan postmodern adalah bahwa teori sosial membantu meningkatkan kesadaran
dan wawasan yang cenderung mengubah lingkungan sosial budaya dengan cara yang
lebih rasional dan manusiawi. Kolonis, sebagai
kelompok yang lebih baik, daripada yang terjajah, seperti yang digambarkan
Leela Gandhi hubungan antara terjajah
(atau bekas koloni) sebagai hubungan hegemonik, lebih rendah. Dan hegemoni
antara penjajah memunculkan apa yang disebut dominasi dan subordinasi. Pola
hubungan ini menciptakan citra yang
tidak menyenangkan sebagai barbar, tidak beradab, bodoh, aneh,
misterius, dan terjajah sebagai masyarakat yang irasional. Sebagai negara yang
telah dijajah selama kurang lebih tiga setengah abad, jelaslah bahwa kekayaan
budaya Indonesia mengandung berbagai persoalan yang perlu dipahami dari
perspektif teori poskolonial.
Jika keadaan ini dikaitkan dengan peristiwa lampau, sebelum ada wabah Covid-19, Indonesia juga pernah diserang wabah yang cukup mematikan. Wabah ini membuat aktivitas masyarakat sempat lumpuh dan membuat tenaga medis kewalahan. Wabah itu bernama pes. Wabah yang disebabkan bakteri Yersinia Pestis (pes). Penyakit ini berasal dari tikus yang terinfeksi bakteri pes. Penularan terjadi melalui kutu pada tubuh tikus yang menggigit manusia. Orang yang terkena penyakit pes dapat menyebarkan penyakit pes ke orang lain. Mirip dengan penyebaran virus Covid-19. Penyakit ini menimbulkan berbagai gejala tergantung pada bagian tubuh yang terinfeksi. Bagian tubuh yang dapat diserang bakteri ini adalah getah bening, paru-paru, dan pembuluh darah. Oleh karena itu, penyakit ini diklasifikasikan sebagai infeksi yang mematikan. Pada tahun 1400, Eropa diserang penyakit pes. Penyakit ini disebut black death atau kematian hitam. Epidemi itu menewaskan hingga 25 juta orang, atau lebih dari sepertiga penduduk Eropa saat itu.
Pada tahun 1910
wabah datang ke Indonesia. Dari tahun 1905 hingga 1910, Indonesia mengalami
gagal panen selama pemerintahan Hindia Belanda. Akibatnya, ketersediaan pangan terus menurun sementara masyarakat
perlu makan setiap hari. Pemerintah Hindia Belanda memutuskan untuk mengimpor
beras dari Myanmar. Bahkan, masih ada peringatan bahwa wabah pes sedang terjadi
di Myanmar. Namun karena kesulitan dan konsumsi yang besar, pemerintah masih
mengimpor beras ini karena tikus Myanmar
berbeda dengan tikus lokal. Akhirnya beras impor dari Myanmar masuk ke
Indonesia melalui pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya dan dikirim ke Malang.
Ternyata karung beras impor itu berisi seekor tikus yang terjangkit penyakit
pes. Ternyata tikus bisa beradaptasi
dengan Malang dan hidup. Sebulan kemudian, 17 orang dilaporkan tewas di Malang.
Media komunikasi pada saat itu belum matang seperti sekarang ini, sehingga
menghambat penyebaran informasi tentang wabah tersebut.
Timbul pertanyaan mengapa bakteri ini pertama
kali menyebar di Malang, bukan di Surabaya. Saat itu, Malang dikenal memiliki
daerah yang lebih sejuk dibandingkan daerah lainnya. Wabah pes bisa bertahan
lebih lama di daerah dingin. Ini memungkinkan tikus yang terinfeksi
penyakit pes untuk bertahan hidup dan menyerang manusia. Pada saat wabah ini menjangkit rakyat Indonesia, termasuk Malang yang
berada dalam era kolonialisme feodal dan rasisme. Saat itu, kekuasaan berada di
tangan penjajah, raja, pejabat, dan bangsawan. Perorangan yang bukan termasuk
golongan ini termasuk golongan “mayoritas” atau masyarakat umum. Adanya kolonialisme
feodal dan rasisme mensejahterakan kehidupan kasta saat itu. Banyak
ketidakadilan, kurangnya kebebasan, dan penghinaan terhadap manusia. Pada saat, mereka
yang berkuasa bertindak diskriminatif dan sewenang-wenang terhadap masyarakat
adat. Kalau boleh dibilang begitu, mereka hanya mencari keamanan dan kenyamanan
bagi rakyatnya sendiri. Mereka segan-segan untuk mendekati masyarakat dalam
kesehariannya, apalagi membantu mereka
yang terkena wabah. Bahkan, mereka membutuhkan orang-orang yang
mengancam kerja kasar.
Saat itu, tidak
semua orang Indonesia bisa bersekolah di sekolah Eropa. Akibatnya, banyak orang
Indonesia yang bodoh dan tertinggal. Saya tidak tahu apakah gubuk bambu Anda
adalah sarang dan pertumbuhan. Semuanya jahat, orang perlu secara finansial
meningkatkan rumah mereka sehingga mereka bukan sarang tikus. Pada saat itu,
pemerintah mengabaikan pengobatan dan pengobatan orang-orang populer. Bahkan,
penyakit ini dapat diperpanjang kepada semua orang, termasuk rakyat mereka,
atau bahkan lebih menyebar ke daerah lain selain Malang.
Kebijakan
Pemerintah Hindia Timur Belanda saat itu
untuk menanggapi wabah tersebut adalah dengan menutup akses jalan dan kereta
api dari dan menuju Malang. Sampai merobohkan rumah berdinding bambu untuk
membasmi sarang tikus. Terisolasinya kota Malang tidak berlangsung lama akibat
minimnya tenaga kerja pertanian yang berimbas pada sektor ekonomi. Akibatnya,
ada lonjakan kasus yang lebih tinggi. Misalnya, pada tahun 1913, jumlah kasus
meningkat lima kali lipat dari 11.000 pada tahun sebelumnya. Nama dr Cipto
Mangunkusumo menjadi yang paling berpengaruh pada masa wabah pes. Tak hanya
itu, pemerintah Hindia Belanda telah memberlakukan kebijakan untuk meluluskan
mahasiswa kedokteran STOVIA yang mampu
merawat pasien pes dengan mempertaruhkan nyawanya tanpa menulis disertasi. Lagi
pula, hanya segelintir dokter, Bumiputera, yang mengobati penyakit pes. Masalah lain yang harus diatasi adalah
pengucilan oleh komunitas orang-orang dengan penyakit pes.
Sebagai PhD, Cipto meminta pemerintah untuk menugaskannya ke Malang.
Saat itu ada beberapa dokter Eropa di Batavia, tetapi mengingat wabah yang
terjadi di Eropa 500 tahun yang lalu, tidak ada yang mau turun tangan untuk
membantu orang. Ironisnya, para dokter Eropa ini menghina dokter Jawa dengan
menyebut mereka pengecut. Nyatanya,
bagaimanapun, tidak ada kemanusiaan untuk membantu korban pes. Pemerintah acuh
tak acuh dengan kondisi rakyat, dokter enggan turun tangan, dan mereka yang
kurang ilmu, ditambah lagi dengan hinaan dokter Eropa kepada dokter Jawa yang
menanamkan semangat dokter. Cipto untuk membantu orang. Negara ini menjadi
dokter. Cipto semakin yakin bahwa tidak ada yang bisa diharapkan dari penjajah. Sesampainya di Malang. Cipto segera menyisir desa terpencil yang terkena wabah pes.
Kemudian dokter. Cipto pingsan tanpa
masker. Seperti yang kita ketahui, penyakit pes bahkan bisa menyerang
paru-paru. Dia menyerahkan takdirnya kepada Tuhan. Saat mengobati wabah
tersebut, pemerintah Hindia Belanda meminta 20 orang dokter untuk membantu
masyarakat. Hanya dua dari 20 yang
menunjukkan motivasi mereka. Kedua dokter tersebut merupakan mahasiswa
Indonesia. Situasi ini sangat sulit mengingat bagaimana menangani penyakit pes
dengan tingkat korban yang sebanding
dengan jumlah tenaga medis saat itu. Apalagi alat kesehatan pada masa itu belum
secanggih sekarang. Ketersediaan APD juga sangat minim. Mereka yang berani
turun membantu orang adalah mereka yang
berhasil memenuhi panggilannya sebagai tenaga medis profesional dan memiliki
derajat kemanusiaan yang tinggi.
Empat tahun setelah wabah pes menyerang Indonesia, dalam sambutannya, Cipto memaparkan penjelasan ilmiah tentang penyakit pes. Mulai dari apa itu penyakit pes, sejarahnya, jenis penyakit pes, bagaimana bakteri ini menginfeksi manusia, dan bagaimana cara memberantasnya. Juga, dalam pidato ini, Dr. Cipto berkata: “Adalah tidak bertanggungjawab untuk membiarkan beribu-ribu orang jatuh menjadi korban pes dengan harapan wabah itu akhirnya bosan meminta korban orang Jawa. Tidak! Kita tidak boleh lengah!” Demikian penjelasan dr. Cipto membakar semangat nasionalisme. Pidatonya dalam bahasa Belanda juga membuktikan kepada Belanda bahwa orang pribumi bisa meniru intelektual kulit putih.
Pada tahun 1915,
pemerintah Hindia Belanda membentuk lembaga khusus untuk memberantas penyakit
pes. Lembaga ini bernama Dienst der Pestbestrijding. Tindakan pemerintah
kolonial mungkin sudah terlambat. Lima tahun kemudian, sebuah epidemi pecah,
menewaskan puluhan ribu orang, dan kemudian lembaga khusus ini didirikan. Tapi
bukankah itu lebih baik daripada
memperlambat? Lembaga tersebut bertugas melakukan kegiatan preventif yang
bersifat pencegahan dengan mengedukasi masyarakat umum tentang penyebaran dan
gejala penyakit pes. Selain itu, fasilitas tersebut menerapkan tindakan
penyembuhan berupa pengobatan dan perawatan bagi korban positif wabah, dilanjutkan dengan proses
pemulihan dan penyembuhan. Sejak itu,
banyak rumah sakit umum dan rumah sakit umum telah dibangun. Upaya juga dilakukan untuk membersihkan dan
membangun rumah warga untuk mencegah tikus
bersarang di sana.
Kemudian, pada tahun 1918, dilaporkan bahwa wabah pes
telah berkurang. Pada 1930-an, kasus baru pes pes jarang dilaporkan di surat
kabar. Kemudian, pada tahun 1934, seorang dokter bernama Lewis "Lou"
Otten menemukan vaksin pes yang aman bagi manusia. Nama Dr. Otten pun menjadi
abadi sebagai salah satu nama jalan di
Kota Bandung.
Berdasarkan
penjelasan di atas, bangsa Indonesia pada hakekatnya masih dijajah oleh
kekuasaan (pemerintah). Bentuk penjajahan yang dijajah oleh poskolonialisme
(melawan kolonialisme) tidak hanya berupa penjajahan fisik, tetapi juga membawa
berbagai kesengsaraan dan penghinaan terhadap fitrah umat manusia, melainkan juga
bisa melalui bangunan wacana dan pengetahuan termasuk dalam bentuk bahasa. Postkolonial
juga mengkritik pendekatan dikotomi, yang merupakan penyederhanaan yang
menyesatkan: bentuk-bentuk kekuasaan yang
negatif akan mengarah pada hubungan-hubungan yang negatif. Rakyat
sebagai manusia kehilangan nilai-nilai
kemanusian yang bersifat negatif. Ketika rakyat diposisikan sedemikian rupa,
rakyat dan kekuasaan akan menimbulkan saling beroposisi. Oposisi pertama yaitu
pihak yang memposisikan sebagai kekuatan yang berhak mendominasi kekuatan lain.
Oposisi kedua yaitu pihak yang diposisikan sebagai kekuatan yang tertindas
akibat hubungan keduanya.





0 Komentar
Halo kamu.. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk singgah dan membaca. Kritik serta saran juga penulis butukan untuk mengembangkan segala aspek pendukung dalam blog ini. Tulis komentar mu dengan bahasa yang baik ya^^ karena segala sesuatu yang baik akan memberikan buah yang baik pula kepada mu.