KRTITIK SASTRA PUISI "KARENA TAHUN TAK PERNAH BERULANG" KARYA DENY TRI ARYANTI
KARENA TAHUN TAK PERNAH BERULANG
Karya: Deny Tri Aryanti
saat kukenang kelahiranku yang terselip butiran tanah
merah
yang nampak hanya roncean semboja
di antara keabadian tak terbaca
seperti teriakan ku yang masih saja menjadi teka-teki ”cinta maya”
adakah kemolekan dari sebuah tarian sunyi
saat berputar-putar mengelilingi mimpi
bercinta dengan abjad yang semakin renta
dan memberikan bayang-bayang sebuah ironi
adakah engkau di sini
saat tetesan pelangi mulai melahirkan kereta kencana
menembus fatamorgana
seolah merantas segala kemuskilan yang tengah kau tawarkan
munkin kelahiranku adalah tawa
munkin juga mengenangnya adalah sebuah luka dari seonggok nyawa
tapi aku mampu menundukkanmu dalam siluet kata-kata
dari detak angka dari detik waktu
semua legenda hanya sebuah dinasti tak bertuan
mungkin masa lalu adalah kesiaan
saat hanya kesepian yang mampu memberikan senyuman
Aku sadar doamu adalah sajak tanpa nyawa
melesatkan waktu dalam hentakan abad
saat terjalku menjelma mimpi dalam lorong masa lalu
dan bayanganmu hanya cerita yang sia
karena tahun tak pernah berulang
Sby- dari seberang mimpi
****
Lahirnya
kritik sastra mampu melengkapi bidang studi sastra atau bidang ilmu sastra sehingga
menjadi teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra. Seringkali orang
merasa bingung dengan ketiga bidang studi ini, meskipun ketiganya merupakan
bidang yang berbeda, walaupun saling interkoneksi, saling mendukung dan saling
melengkapi. Salah satunya yakni teori strukturalisme genetik.
Strukturalisme
genetik adalah bentuk analisis yang melengkapi strukturalisme murni dan
menjadikan karya sastra hanya dianalisis dari sudut intrinsiknya saja. Analisis
struktur genetik termasuk faktor genetik dalam karya sastra yang mengacu pada
asal usul sebuah karya sastra. Faktor yang berhubungan dengan asal usul sebuah
karya sastra adalah pengarang dan kenyataan sejarah juga menentukan kapan karya
sastra diciptakan. Dominan pada priode tertentu di barat dan indonesia karena
memasukkan struktur sosial dalam kajiaannya. Seperti puisi "karena tahun
tak pernah berulang." Karya Deny Tri Aryanti.
Pengarang
menuangkan karya bertemakan kisah kelahiran seorang anak yang hidup tanpa
seorang ibu yang melahirkannya. Nilai sosial yang dapat diterima ialah
hendaknya kita menghargai orang tua yang telah melahirkan dan merawat serta membesarkan
kita, menyayangi mereka dengan setulus hati. Begitu pula sebaliknya, seorang
ayah dan ibu harus mampu membagi waktu diselah waktu kerja, dapat meluangkan
waktu untuk bercanda gurau serta berbagi kasih dengan buah hati, menciptakan
kisah indah juga memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Suatu realitas
yang hampir hilang, tetapi pengarang mengingatkan kembali dan menunjukkan masih
adanya potret seorang anak yang masih membutuhkan kasih saying dari orang tua
terkhusus sosok ibu yang melahirkannya.
Sama
halnya dengan M. Shoim Anwar, sosok Deny Tri Aryanti juga mampu menjadikan
kisah disekitarnya menjadi sebuah karya sastra yang elok dan indah memanjakan
mata. Bukan dengan gambar atau sejenisnya, melainkan dengan untaian kata yang
memikat pembaca melalui tiap baris dalam puisinya. Seperti pada kasus kali ini,
dalam puisinya yang bertajuk "karena tahun tak pernah berulang.” Deny
mampu membuat hati meringik pilu dengan untaian rasa hampa, sedih serta haru
yang ia gelontorkan. Walaupun tidak secara gambling di tuliskan. Namun, rasa
tersebut berhasil dihadirkan dan membangun visual yang sempurna.
Pada
penulisan kritik sastra kali ini hanya akan berfokus pada faktor genetik saja. Seperti
uraian di atas, faktor genetik dalam karya sastra mengacu pada asal usul sebuah
karya sastra itu sendiri. Faktor tersebut meliputi pengarang dan kenyataan sejarah
yang menjadi penentu kapan karya sastra diciptakan. Sehingga saya akan mencoba
menguraikan tiap baris puisi dan mencari keterkaitan dengan kisah kehidupan nyata
sang penulis.
Secara
garis besar, puisi tersebut mampu menjawab pertanyaan serambies semua, “siapa
itu Deny Tri Aryanti?” sungguh luar biasa bukan? Seorang penulis mengisahkan
dirinya melalui media tulisan. Baiklah, mari simak uraian berikut.
Baris 1-3
saat kukenang
kelahiranku yang terselip butiran tanah merah
yang nampak hanya
roncean semboja
di antara keabadian tak terbaca
Pada bait tersebut dikisahkan
bahwa Deny
Tri Aryanti tengah mengenang masa kelahirannya, pada bait tersebut dapat
diketahui bahwa Ia tengah kehilangan seseorang di masa kelahirannya, tidak
dijelaskan secara numerik berapa usia Ia kehilangan sosok yang terselip butiran tanah merah tersebut. Namun, pada kalimat yang nampak hanya roncean
semboja mampu menjelaskan bahwa sosok tersebut telah wafat di
antara keabadian tak terbaca. Pernyataan bahwa seseorang tersebut
telah wafat ialah terlintas pada bait 13-14.
munkin
kelahiranku adalah tawa
munkin juga mengenangnya adalah sebuah luka dari seonggok nyawa
Setelah
menelisik lebih lanjut, diketahu bahwa seseorang yang dimaksud dalam puisi tersebut
ialah sosok Ibu Deny. Saat itu usia Deny barulah 5 tahun. Kemudian
pada bait 9-12 dijelaskan bahwa Deny bertanya dalam keluguannya, “adakah
engkau di sini”, dalam kedukaannya Ia mampu tumbuh selayaknya gadis lain.
Deny diasuh oleh ibu sambungnya yang sama baiknya dengan ibu kandungnya sendiri,
beliau adalah adik dari ibu Deny yang kemudian dinikahi oleh sang bapak. Kasih
saying dari keluarganya mampu menjadikan Deny sebagai gadis yang aktif,
terbukti pada bait 11-12 berikut.
menembus
fatamorgana
seolah merantas segala kemuskilan yang tengah kau tawarkan
Diakhir puisinya,
Deny memberikan segenggam amanah kepada para pembaca.
semua
legenda hanya sebuah dinasti tak bertuan
mungkin masa lalu adalah kesiaan
saat hanya kesepian yang mampu memberikan senyuman
Aku sadar doamu adalah sajak tanpa nyawa
melesatkan waktu dalam hentakan abad
saat terjalku menjelma mimpi dalam lorong masa lalu
dan bayanganmu hanya cerita yang sia
karena tahun tak pernah berulang
Bait tersebut mengandung amanah yang sangat dahsyat peranannya dalam kehidupan, saya dapat menafsirkan bait tersebut seperti di bawa ini:
“Semua
kehidupan hanyalah sebuah hal yang fana dan semua nyawa pasti kembali pada sang
kuasa. Jangan biarkan kesedihan memikulmu dalam duka maka jangan larut di
dalamnya sebab masa lalu hanyalah cerita sia dan hakikatnya hanya doa yang
mampu menembus lorong kala.”
Secara keseluruhan, tidak ditemukan
majas, maupun Bahasa retorik yang digunakan, tipografi yang digunakan ialah
tipografi konvensional tanpa ada variasi baris maupun sajak. Walaupun berkesan
kuno, namun muatan isi memiliki daya Tarik tersendiri sebab Deny mampu memainkan
diksi bermakna konotatif dengan tepat serta mampu menyusun kata dengan sangat
lihai. Selain itu, dalam puisi tersebut pengarang lebih banyak menggunakan kata-kata
yang sudah familier dan mudah dipahami oleh pembaca meskipun ada juga beberapa
kata yang mengalami defamilier.
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3609574/original/057486600_1634869211-pexels-meruyert-gonullu-6908153.jpg)

0 Komentar
Halo kamu.. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk singgah dan membaca. Kritik serta saran juga penulis butukan untuk mengembangkan segala aspek pendukung dalam blog ini. Tulis komentar mu dengan bahasa yang baik ya^^ karena segala sesuatu yang baik akan memberikan buah yang baik pula kepada mu.