KRITIK SASTRA CERPEN "GOMBAL MUKIYO"
Masih dalam dunia yang sama, yakni “kritik sastra” dengan sastrawan tumpuannya, M. Shoim Anwar. Pada postingan kali ini, saya akan mengulas cerpen garapan M. Shoim Anwar yang bertajuk “Gombal Mukiyo” terbitkan pada 22 Oktober 2010 melalui blog pribadi mamanoenk dalam link Gombal Mukiyo | mamanunung (wordpress.com).
Cerpen
dengan judul “Gombal Mukiyo” yang bersudut pandang
orang pertama serba tau ini berkisah mengenai seorang lelaki berbadan kurus
kerempeng bernama Mukiyo. Diketahui tokoh Saya dan Mukiyo sedang berdiri
di tepi jalan yang hendak dilewati lori, lori dengan angkutan tebu tersebut
milik sebuah pabrik penghasil gula tebu dari wilayah Papar dan Purwoasri yang
hendak dibawa ke pabrik. Tokoh Saya dan Mukiyo
adalah teman sejak kecil, dulu mereka
hidup sekampung, berada dalam sekolah rakyat yang sama, serta melalui hal
lainnya bersama.
Tokoh Saya pun memaparkan seluk beluk keluarga Mukiyo, mulai
dari Orang
tua Mukiyo yang merupakan seorang lurah di daerah Ngadiluwih. Kemudian penjelasan
mengenai Mukiyo yang merupakan anak tunggal dari perkawinan antara Lurah Saeri
dan Mutoyah yang mana Ibu Mukiyo sendiri adalah istri yang keempat. Hingga kisah
bahwa Lurah Saeri yang memiliki istri di beberapa Dukuh dan semua istri Lurah
Saeri memiliki anak. Tokoh Saya pun menjelaskan bahwa Anak Lurah Saeri dengan
istri-istrinya tidak kurang dari tiga puluh anak. Di tiap-tiap wilayah itu pula
Lurah Saeri memiliki sawah yang cukup luas untuk menghidupi istri-istri dan
anak-anaknya. Lurah Saeri sendiri mengaku masih memiliki garis keturunan dari
Bung Karno.
Bedasarkan
susur galur yang dipaparkan oleh tokoh Saya tersebut, pembaca dapat mengetahui
bahwasanya tokoh Mukiyo merupakan anak seorang konglomerat yang kaya raya,
dilahirkan dari keluarga terpandang dan memiliki jabatan. Namun susur galur yang
demikian tidak menjamin kehidupan yang bahagia dan indah bagi Mukiyo, sebab setelah
Mukiyo menikah dengan Parsih malapetaka pun menimpahnya hingga membuat Mukiyo
kehilangan istri dan juga anaknya. Ia tak mampu menerima garis hidupnya dan membuat
Mukiyo menjadi majenun (edan).
Mengenai
tajuk cerpen di atas, “Gombal Mukiyo” terdiri dari dua kata, yakni “Gombal”,
yang dalam tata bahasa Jawa diartikan sebagai kain yang tidak berharga, yang
biasanya sudah tidak dipakai, atau kalaupun dipakai hanya untuk Lap. Terkadang orang
lebih spesifik mengartikannya sebagai kain yang sudah rusak, kain lusuh, atau
kain yang jelek. Sedangkan “Mukiyo”, adalah nama seseorang,
yang sampai sekarang masih misterius latar belakangnya, tidak jelas bagaimana
awalnya, dan siapa sebenarnya Mukiyo ini hingga menjadi fenomenal dan
namanya diabadikan sedemikian rupa serta dipasangkan dengan kata gombal.
Satu-satunya informasi yang bisa dilacak adalah Mukiyo ini diduga berjenis
kelamin laki-laki. Gombal Mukiyo, dalam perkembangannya merambah hampir semua
pelosok Jawa Tengah (termasuk Jogjakarta) dan Jawa Timur dengan esensi yang
melekat pada ungkapan ini dipakai untuk meledek sesuatu atau seseorang yang
tidak serius, tidak berharga, atau pembualan. Kalau arti secara keseluruhan, menurut
saya, 'gombal mukiyo' ini bisa diartikan sebagai ungkapan yang berarti omong
kosong atau bullshit, tidak mungkin, ngarang, dan sejenisnya.
Nah,
berdasarkan idiom yang beredar dikalangan masyarakat jawa ini M. Shoim mampu memvisualisasikan
istilah “Gombal Mukiyo” melalui narasi dalam cerpennya. Ia menghidupkan tokoh
Mukiyo dan memberinya segenggam kisah kemudian menyimpulkan serta menggiringnya
pada lingkaran makna istilah yang identik dengan gombal mukiyo, yakni EDAN. M.
Shoim berusaha mengartikan idiom “Gombal Mukiyo” dengan imajinya. Jika selama
ini Mukiyo hanya sekedar nama, M. Shoim Anwar mampu melahirkan dan meniupkan
nyawa baginya, meskipun terlahir EDAN mukiyo menjadi tampak dan hidup.
M. Shoim anwar sangat piawai dalam mengolah kata dan membangun cerita, di awal kisah pembaca tidak akan menyangka bahwa Mukiyo seorang yang gila. Sebab M. Shoim memulai waritanya dengan sangat indah, menampakkan deretan majas personifikasi yang melahirkan suasana tenang dan bahagia dalam selimut senja. Dialog yang di munculkan di awal kisah belum mampu melahirkan kecurigaan, hanya anggapan bahwa Mukiyo adalah pribadi yang lawak dan sodron. Kebenaran Mukiyo edan baru diketahui setelah tokoh Saya menjabarkan lebih mendalam mengenai kehidupan Mukiyo dan M. Shoim Anwar mulai memunculkan bukti-bukti pendukung bahwa Mukiyo memang sudah gila dan selalu menenteng gombal dekil miliknya. Jika M. Shoim mengawali kisah dengan menggunakan majas personifikasi, maka dalam cerpen “Gombal Mukiyo” ini M. Shoim mengakhirinya dengan penggunaan majas pleonasme yang memenuhi satu paragraph di akhir kisah.
Kesalahan
kepenulisan juga ditemukan dalam cerpen “Gombal Mukiyo” ini. Kesalahan penulisan
kata depan dan kata hubung sangat mendominasi. Perlu diketahui, bahwa kata
depan dan kata hubung tidak diperbolehkan untuk mengawali sebuah kalimat.
Kata “tetapi” digunakan
sebagai kata penghubung intrakalimat untuk menyatakan hal yang bertentangan
atau tidak selaras dengan pernyataan sebelumnya. Bentuk kata tetapi ini
berdasarkan kamus besar bahasa indonesia (kbbi) dibedakan menjadi dua, yaitu
kata tetapi dan tapi. Kata tetapi ditetapkan sebagai
bentuk baku, sedangkan kata tapi ditetapkan sebagai bentuk tidak baku. Kata hubung
“tapi” lazimnya digunakan dalam percakapan sehari-hari, karena lebih cepat
dituturkan dan lebih mudah juga penuturannya dan penulisan kata “tapi” yang
merupakan sebuah kata penghubung maka penulisannya harus didahului koma bukan
titik dan tidak diperbolehkan untuk mengawali suatu kalimat. Kata “tapi” tidak
boleh digunakan untuk memulai kalimat, karena hubungannya belum terjalin.
Penggunaan kata “dan”
yang tepat memerlukan penggabungan dua gagasan terpisah yang kurang lebih sama
pentingnya. Contohnya, “kopi ada di dapur dan telur ada di lemari es.” Ada
hubungan yang setara antara kopi dan telur, dan konjungsi dan memiliki peran di sini. Jika anda memulai
kalimat dengan dan, maka sama saja melemahkan kalimat tersebut secara
tidak perlu. Kesalahan penulisan “dan” juga sering terjadi dalam penulisan, “dan”
ketika menghubungkan lebih dari dua hal atau benda, misalnya, “di kamar itu ada
kursi, meja dan tempat tidur” (tanpa koma). Mestinya, menurut EYD, harus menggunakan
tanda baca koma. Contohnya, “di kamar itu ada kursi, meja, dan tempat tidur”.
Kata “dan” dalam bahasa Indonesia berfungsi sebagai kata penghubung.
Kata “dan” menghubungkan antara dua kata, frasa, klausa, dan kalimat yang
memiliki makna setara. Dengan demikian, penulisan kata “dan” di awal kalimat
itu keliru.






0 Komentar
Halo kamu.. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk singgah dan membaca. Kritik serta saran juga penulis butukan untuk mengembangkan segala aspek pendukung dalam blog ini. Tulis komentar mu dengan bahasa yang baik ya^^ karena segala sesuatu yang baik akan memberikan buah yang baik pula kepada mu.