TIKUS! TIKUS! TIKUS! (SEBUAH KRITIK SASTRA)

TELAAH CERPEN "LABORATORIUM TIKUS" KARYA M. SHOIM ANWAR

Cerpen “Laboratorium Tikus” ini menceritakan tentang keadaan sebuah laboratorium yang diserbu pasukan tikus. Banyak kejadian yang tidak disangka-sangka dan tidak mudah ditebak di dalam laboratorium. Mulai dari kegelisahan Pokro terhadap suara perempuan yang memanggil namanya namun tidak ada sosoknya. Pokro mengira bahwa perempuan tersebut adalah Rantini yang beberapa tahun lalu bunuh diri dengan cara menenggak larutan asam sulfat dalam laboratorium. Kisah Pak Prapto dan Pokro yang terheran-heran karena barang-barang kimia yang masih tersimpan banyak di lemari namun hanya dalam waktu tiga hari barang-barang tersebut telah habis padahal di laboratorim belum ada praktikum selama tiga hari. Kecurigaan Pak Prapto setelah menyuruh Bu Badro untuk berbelanja bahan-bahan kimia. Setelah Bu Badro membeli perlengkapan laboratorium, kecurigaan Pak Prapto semakin bertambah dengan melihat kuitansi belanjaan Bu Bardo yang nampak seperti kuitansi akal-akalan sebab tulisan dan harga yang tertera tidak sama dengan apa yang ada di toko tempat Bu Badro belanja. 

Cerpen ini tidak hanya membahas tentang keseharian para pekerja, namun juga membahas mengenai tikus-tikus (hewan) yang merajalela di dalam laboratorium beserta kekacauan yang dibuatnya, salah satunya seperti kasus penyebab Bu Badro masuk rumah sakit. Pasalnya, Bu Badro telah menyantap dua tangkup roti yang sudah ditaburi racun tikus di bagian tengahnya. Pak Prapto mambawa roti beracun itu dari rumahnya untuk meracuni tikus. Alih-alih meracuni tikus, malah Bu Badro yang teracuni. Tikus-tikus (hewan) inilah yang menjadi topik utama dalam cerpen.

M. Shoim Anwar dalam cerpen “Laboratorium Tikus” membuat kesan yang unik dengan menaruh dan menggunakan beberapa majas perbandingan atau perumpamaan atau simile sebagai penjelas bentuk fisik dari tokoh cerita. Majas perbandingan atau perumpamaan atau simile adalah bahasa kiasan yang menyamakan satu hal dengan hal lain dengan mempergunakan kata-kata pembanding. Kata pembanding tersebut dapat berupa bagai, bak, seperti, laksana, seumpama, bagaikan, semisal, serupa, dan sejenisnya. seperti pada kutipan berikut.

Tikus Parlemen:80
Tikus Parlemen:80

Tikus Parlemen:82

M. Shoim Anwar dalam cerpen “Laboratorium Tikus” juga telah menaruh banyak clue yang dapat memperkuat bahwa tema sebenarnya dari cerpen ini adalah Tikus (hewan). Alih-alih memberikan sentilan kepada tikus (manusia) namun sebenarnya itu hanya sekedar ilusi, dalam artian hanya sebagai bumbu pemanis dan pelengkap yang berarti bukan merupakan rempah utama. Sehingga terdapat banyak pembaca yang berasumsi bahwa cerpen ini bertemakan isu politik karena memang didalamnya juga terdapat bentuk sindiran dalam ranah parlemen yang melibatkan para koruptor. Namun yang perlu digaris bawahi adalah isu politik hanya dijadikan inspirasi dan bumbu pelengkap bukan bahan baku utama dalam tema pokok cerpen. Hal demikian akan ditemukan dan disadari ketika pembaca telah berhasil membaca secara keseluruhan cerita pada cerpen ini. Bukti sindiran tersebut dapat disimak dalam kutipan berikut.

Tikus Parlemen:82

Tikus Parlemen:83

  
Tikus Parlemen:85


Tikus Parlemen:86








Tikus Parlemen:85

Tikus Parlemen:87

Kemudian berikut bukti bahwa cerpen ini sesungguhnya membahas mengenai tikus (hewan) yakni:
Tikus Parlemen:85




Tikus Parlemen:90

Terdapat pula kesalahan dalam beberapa penulisan, seperti penulisan kata "Dan" diawal sebuah kalimat. seperti pada kutipan berikut:

Tikus Parlemen:88

Tikus Parlemen:90

Tikus Parlemen:80

Matanya mendelik merah. Dan mulutnya mengeluarkan lendir. (Tikus Parlemen:91)

Jadi, kata “dan” memiliki fungsi sebagai kata penghubung. Kata “dan” menghubungkan antara dua kata, frasa, klausa, dan kalimat yang memiliki makna setara. Bukan untuk ditaruh di awal kalimat.

Kesalahan lain juga ditemukan dalam penggunaan kata yang tidak baku. Seperti pada kutipan berikut:

Tikus Parlemen:80

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), kata yang benar adalah keran. Kata kran yang biasa diucapkan sehari-hari bukan termasuk kata baku. Jadi, Kata yang benar dan baku adalah keran.

Secara keseluruhan cerpen ini sangat menarik untuk dibaca, terlebih lagi settingan ceritanya berhasil membuat pembaca kesal sebab merasa penasaran terhadap kepastian ujung kisah pada setiap peristiwa. Contohnya, pembaca dibuat penasaran dengan sosok perempuan yang memanggil Pokro dan Pak Prapto. Tidak ada wujud hanya terdengar suaranya. Diawal cerita pembaca sudah merasakan hal-hal mistis namun sayangnya hanya sesaat, hal mistis muncul lagi setelah di akhir cerita. Kekurangan cerpen ini adalah setiap plot alur cerita tidak ada lanjutannya. Misalnya tidak ada kelanjutan dari kisah suara perempuan mistis, siapakah perempuan itu. Kemudian kuitansi Bu Badro yang sempat dituduh kuitansi akal-akalan. Kemudian keadaan Bu Badro yang masuk rumah sakit, apakah memang benar bu bardo keracunan karena memakan roti yang telah diberi racun oleh Pak Prapto di timbangan laboratorium atau dugaan saja. Tidak ditemukan dan dijelaskan pula asal mula tikus-tikus itu muncul. Tidak juga diceritakan penyebab bunuh diri seorang perempuan bernama Rantini. Terlebih lagi nasib tikus-tikus di laboratorium yang tidak ada penanganan yang serius. Semua tergantung seakan tertindih dengan konflik baru yang diciptakan penulis tanpa adanya sebuah penuntasan yang klimaks.


0 Komentar

Terima kasih telah singgah sejenak dan membaca aksara di serambi sastra.

Saatnya berbuat dan berkarya, susun rencana sekarang juga, mulailah secepatnya. -Najwa Shihab