MAFIA DI KANCA PARLEMENTER (SEBUAH KRITIK SASTRA)

 TELAAH  CERPEN BAMBI DAN PEREMPUAN BERSELENDANG DAN CERPEN SOROT MATA SYAILA DALAM BUKU KUMPULAN CERPEN TIKUS PARLEMEN KARYA M. SHOIM ANWAR



Seperti pada hakikatnya, kisah yang tertuang dalam buku kumpulan cerpen yang bertajuk TIKUS PARLEMEN karya M. Shoim Anwar bercerita seputar beberapa problematika kehidupan, baik itu berakar pada kehidupan sosial, budaya, ekonomi, maupun politik yang bersangkutpaut dengan atmosfer keparlementeran. Tak terkecuali pada cerpen yang bertajuk Bambi dan Perempuan Berselendang Baby Blue pada halaman 172 dan cerpen yang bertajuk Sorot Mata Syaila yang berada dalam halaman 257 pada buku kumpulan cerpen TIKUS PARLEMEN karya M. Shoim Anwar.

Tak heran jika kekuasaan, kekayaan, dan wanita saat ini menjadi kebutuhan yang harus dipenuhi dalam hidup. Kekuasaan adalah tentang bagaimana seseorang dapat mengendalikan seseorang, terutama orang-orang kecil yang lebih rendah darinya. Kekayaan menyangkut cara seseorang harus selalu bisa hidup. Apakah seseorang mengikuti jalan yang baik atau jalan yang benar, sesorang pasti akan tergoda oleh harta. Wanita menjadi suatu kebutuhan yang harus dimiliki oleh pria maupun sebaliknya. Kedua cerpen ini dapat dianalisis dengan menggunakan teori New Historisisme. Hal ini kedua cerpen ini menekankan pada hubungan teks sastra dengan berbagai kekuatan sosial, ekonomi dan politik di sekitar mereka.

Secara spesifik kajian New Historicism mencoba menafsir dan menelaah kembali konstruksi kekuasaan berikut jejaring yang dibentuknya melalui pembacaan secara memadai atas teks sastra yang ada. Oleh karena itu dalam konteks kajiannya, New Historicism sama halnya mencoba membuka selubung praksis kekuasaan yang berjalan melalui teks sastra. Sehingga dirasa sangat relevan jika kritik sastra ini dilandaskan pada teori New Historicism, sebab Cerpen yang bertajuk Bambi dan Perempuan Berselendang Baby Blue dengan cerpen yang bertajuk Sorot Mata Syaila sejatinya memiliki asumsi dasar yang sama terkait kekuasaan dan beberapa faktor lainnya.

Cerpen yang bertajuk Bambi dan Perempuan Berselendang Baby Blue bercerita mengenai tokoh Anik yang memiliki problematika personal dengan tokoh sentral, yakni Bambi yang berprofesi sebagai seorang hakim tunggal pada kasus yang menjerat tokoh Anik dengan gugatan yang dilayangkannya kepada almarhum Pak Madali. Pertemuan antara tokoh Anik dengan tokoh Bambi tidak direncanakan, mereka dipertemukan dalam sebuah club salsa, Anik tak sengaja melihat Bambi di arena dance floor sambil bersandar di pilar.

Anik mencoba mencari kesempatan untuk bisa berbicara dengan Bambi. Beruntung Bambi beranjak dari duduknya untuk pamit ke toilet dan Anik segera menyusul dan mencegatnya di mulut toilet laki-laki. Dari kejadian tersebut, kebusukan Bambi seorang hakim yang bertubuh tambun terbongkar, dengan dukungan pernyataan yang disampaikan oleh tokoh Devira di akhir cerita yang menyatakan bahwa Bambi merupakan pribadi suka membakar-bakar orang agar berperkara di pengadilan, terutama yang terkait perkara perdata. Mereka yang posisinya kuat dan dinilai akan menang maka didekati oleh Bambi, dirayu dan dimenangkan di pengadilan. Tentu saja, kata Devira, tidak ada yang gratis. Yang dimintai uang itulah yang dimenangkan. Ternyata tokoh Devira dapat mengetahui sepak terjang Bambi sebab mereka memang tinggal di kawasan yang sama. Namun seperti yang pembaca ketahui, kemenangan tersebut tidak berlaku pada kasus dipersidangan Anik dan mengakibatkan Anik harus meluapkan amarahnya terhadap Bambi.

Kisah Bambi mengingatkan pada kasus penipuan tahaun 2015 yang bermodus mengurus perkara di MA. Berita dan himbauan akan hal tersebut telah gencar disuarakan oleh instansi hukum, baik melalui media konvensional maupun elektronik. Seperti yang dilansir oleh HUKUMONLINE.COM dalam artikelnya yang berjudul MA: Waspadai Penipuan Terkait Urus Perkara yang ditulis oleh ANT pada 17 April 2015, kasusnya persis dengan yang dilakukan oleh Bambi. Sudah dapat dipastikan hal tersebut adalah sebuah bentuk penipuan. 

Kisah kebengisan dan kemarkahan tokoh Bambi memiliki kesamaan gelagat dalam parit kecacatan kekuasaan yang dilakoni oleh tokoh Matalir dalam cerpen yang bertajuk Sorot Mata Syaila yang berada dalam halaman 257. Dalam cerpen Sorot Mata Syaila, tokoh Matalir digambarkan sedang melakukan penerbangan pesawat Di negeri Uni Emirat Arab dengan maskapai Etihad Airways nomor penerbangan EY 474 pada gate 7-8. Penerbangan tersebut dilakukan oleh tokoh Matalir untuk memperlambat proses hukum sambil mencari terobosan lain termasuk sengaja tidak hadir saat dipanggil untuk diperiksa penyidik.

Matalir merupakan seorang yang memiliki pengaruh, namun kini Ia telah menjadi buronan dan memilih kabur ke luar negeri. Perkara tersebut tidak melibatkan matalir seorang diri. Seluruh keluarga, istri dan anak-anak, juga diperiksa karena diduga teraliri dana dalam bentuk kepemilikan saham perusahaan. Si alan, seorang teman anggota parlemen yang menjadi terdakwa “menyanyi” saat di persidangan, termasuk mengungkap liku-liku pemenangan tender yang telah kami skenariokan untuk perusahaan keluarga. Pengakuan itu bahkan telah masuk dalam berita acara pemeriksaan alias BAP. Jumlah kerugian uang negara juga telah disebut.

Memanfaatkan pengaruh serta jabatannya, Matalir mampu mengatur agar status buronnya tidak bocor ke publik. Pada saat itulah Matalir dengan cepat melarikan diri keluar negeri. Tentu saja dengan beberapa skenario yang sudah diersiapkan sejak kasusnya mulai terungkap. Semua keluarga sudah diskenario agar satu suara, bila perlu bungkam. Gelagat dalam parit kecacatan kekuasaan terlihat pada peristiwa Ketika berita ramai tersiar bahwa Matalir dicekal, posisinya sudah di luar negeri. Matalir menyatakan, Inilah enaknya punya jaringan khusus di lembaga peradilan. Ia merasa sedikit beruntung kasusku ditangani mereka. Andai yang menangani KPK, mungkin aku sudah meringkuk di sel.

Jika Bambi memiliki kecacatan kekuasaan dalam menipu daya kliennya guna meraup keuntungan, maka Matalir memiliki kecacatan kekuasaan dalam meraup perlindungan guna menghindari hukuman atas kejahatan yang Ia lakukan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa kedua cerpen tersebut memiliki arah kompas yang sama dalam hal penyalahgunaan kekuasaan serta turunnya campur tangan dari pihak parlemen yang mendukung kejahatan kedua tokoh tersebut.

Peran teori New Historicism dapat diperlihatkan pada aspek ini, kasus yang menjerat Matalir relevan dengan kasus yang marak terjadi saat ini. Selebriti maupun pengusaha berbondong-bondong membeli saham dan bermain trading online guna meraup pundi-pundi cuan yang melimpah. Namun setelah beberapa tahun berlangsung lancar aman, akhirnya kejahatan tersebut dapat tercium pemerintah dan dilakukanlah sebuah pemeriksaan intensif terhadap semua orang yang terlibat dalam pemutaran uang hasil jual beli saham serta trading online. Alhasil dapat kita jumpai sekarang beberapa nama tersohor yang menjadi tersangka, seperti Indra Kens, Doni Salmanan yang berhasil dibuikan dalam kasus penipuan Trading bodong. Akibat ulah kedua tersangka tersebut, beberapa artis besar pun diseret guna melakukan investigasi terhadap aliran dana yang dikucurkan terhadap mereka. Kemudian kasus trading mencuat kembali dengan melibatkan Robot Trading DNA Pro dan Robot Trading Farenheit, mereka mampu menjadikan beberapa artis besar terjerumus dalam lembahnya, seperti Ivan Gunawan, Bily Syaputra, bahkan dikalangan penyaynyi seperti Rossa. Dengan adanya berita dan fenomena di sekitar, M. Shoim Anwar selalu berhasil menyerap peluang ide serta menyalinnya dalam keestetikan sajak dalam tulisannya. 

Gaya bahasa yang dipakai dalam kedua cerpen tersebut sangat mudah dimengerti oleh pembaca, sehingga penggambaran peristiwa serta amanat yang terkandung dalam cerpen dengan mudah dapat dipahami serta dapat tervisualisasikan dengan apik. Penggunaan majas Asoiasi atau majas perumpamaan juga ditemukan pada halaman 178 “wajahnya warna bunga waribang” yang bertanda wajahnya memerah kekuningan layaknya bunga sepatu. Seperti karya-karya M. Shoim lainnya, penggunaan Plot twists bahwa tokoh Miske, gadis yang meringkuk di pelukan Bambi merupakan anak dari almarhum Pak Madali yang berstatus sebagai ahli waris dari kekayaan Pak Madali. Kasus Anik dikalahkan sebab Bambi ingin mendapatkan Miske atau Kiara beserta harta gemilangnya. Plot twists yang demikian adalah pemikiran yang sungguh luar biasa. M. Shoim mampu melahirkan Plot twists sebagai bentuk sentuhan Jump scare yang mampu mengagetkannya pembaca melalui perubahan fakta dan kejadian sebenarnya secara mendadak.

Namun dari segi alur cerita, konflik yang menjerat antara tokoh Anik dan Bambi belum terjelaskan secara matang. Dalam artian, permasalahan Anik terkait penipuan yang dilakukan oleh Bambi terhadapnya tidak menemui titik terang. M. Shoim Anwar lebih memilih untuk membungkam permasalahn tersebut dengan umpatan “Cuk!” daripada harus menjabarkan solusi yang harus ditempuhnya sebagai bentuk penyelesaian dan ending. Hal ini membuat kisah ini seakan menggantung dan pembaca merasa penasaran serta dapat berasumsi penulis memilih membatasi sejak dini sebab kisah ini akan memiliki kelanjutan yang lebih rumit dan bekepanjangan jika terdapat penjabaran solusi.

Dari segi tipografi, Cerpen yang bertajuk Bambi dan Perempuan Berselendang Baby Blue masih ditemukan beberapa kesalahan. Diperlukan kejelian dan ketelitian sebab kesalahan kepenulisan dapat menghambat pemahaman dan konsentrasi pembaca. Kesalahan penulisan seaakan menjadi tirai penghalang dalam proses pembangunan visual pembaca sebab fokus baca dapat terganggu.

Di awal paragraf, kesalahan penulisan sudah ditemukan. Berikut hasil temuannya:

1.   Salah = “….di atasdanyang di bawah.” (halaman 172)

Benar  = “….di atas dan yang di bawah.” (halaman 172)

2.   Penggunaan kata “dan”. kata “dan” memiliki fungsi sebagai kata penghubung. Kata “dan” menghubungkan antara dua kata, frasa, klausa, dan kalimat yang memiliki makna setara. Bukan untuk ditaruh di awal kalimat. Oleh karena itu, kalimat dibawah ini merupakan bentuk penggunaan kata “dan” yang salah.

Salah = “….memainkan langkah ke berbagai arah. Dan saat kaki itu terangkat…”

(halaman 172)

Benar  = “….memainkan langkah ke berbagai arah dan saat kaki itu terangkat…”

 (halaman 172)

3.   Salah = “….empat pasang pedansa sambilbersandar di pilar.” (halaman 173)

Benar  = “….empat pasang pedansa sambal bersandar di pilar.” (halaman 173)

4.   Salah = “Niati saja olah raga,” (halaman 175)

Benar  = “Niati saja olahraga,” (halaman 175)

Penulisan yang benar dan baku menurut KBBI adalah "olahraga" bukan "olah raga". Sehingga benar adalah yang tidak menggunakan spasi. Menurut KBBI, pengertian kata "olahraga" adalah gerak badan untuk menguatkan dan menyehatkan tubuh

5.   Salah = “Bagisang perempuan,….” (halaman 175)

Benar  = “Bagi sang perempuan,….” (halaman 175)

6.   Salah = “…harga perempuan nakalyang diajaknya…” (halaman 177)

Benar  = “…harga perempuan nakal yang diajaknya…” (halaman 177)

7.   Salah = “Mengapa aku kaukalahkan?” (halaman 177)

Benar  = “Mengapa aku kau kalahkan?” (halaman 177)

8.   Salah = “Dia merontadan berusaha…” (halaman 179)

Benar  = “Dia meronta dan berusaha…” (halaman 179)

 

Kemudian dari segi penokohan, dalam cerpen yang bertajuk Sorot Mata Syaila yang berada dalam halaman 257 pengarang menggambarkan tokoh Syaila dengan penuh ketidakjelasan. Ketidakjelasan di sini seperti, pertanyaan seputar apakah tokoh Syaila merupakan sebuah halusinasi dari tokoh Aku (Matalir) atau benar-benar sosok yang nyata. Sebab di awal cerita, penggambaran tokoh Syaila sangat rinci dengan penggambaran fisik serta tingkah laku tokoh namun setelah tokoh Aku (Matalir) menceritakan permasalahan yang memeluknya, sosok Syaila tergambar sebagai sosok yang berbeda dengan penggambaran di awal cerita yang kemudian pengarang menggambarkan sosok Syaila sebagai sosok yang misterius dan berujung sebagai sosok yang tidak jelas dengan menghilangnya tokoh Syaila dan berganti dengan gambaran keluarga tokoh Aku (Matalir) yang tergantung tragis. Hal tersebut menguatkan bahwa sosok Syaila hanyalah sosok halusinasi dari tokoh Aku (Matalir).

Plot twists pada akhir cerita dalam cerpen Sorot Mata Syaila mampu memainkan imaji pembaca dengan tokoh utama perempuan yang dinamakan Syaila mulai beranjak dari sandaran dan tempat duduknya, menganggguk dan mengisyaratkan Matalir untuk mengikutinya menuju lorong demi lorong yang semakin sepi dan gelap. Hingga dibawah kesadarannya seakan ia telah dijebak oleh Syaila, perempuan abaya bermata kucing hitam yang menghipnotisnya. Ia merasa seperti dicekik, bisa dikatakan semacam hukuman atas perilakunya yang tidak jujur dan mengentengkan sistem hukum yang harusnya Ia dapatkan.

Dari segi tipografi, Cerpen yang bertajuk Sorot Mata Syaila juga masih ditemukan beberapa kesalahan. Sama halnya pada cerpen Bambi dan Perempuan Berselendang Baby Blue, penggunaan tipografi dalam cerpen yang bertajuk Sorot Mata Syaila juga diperlukan kejelian dan ketelitian sebab kesalahan kepenulisan dapat menghambat pemahaman dan konsentrasi pembaca. Kesalahan penulisan seaakan menjadi tirai penghalang dalam proses pembangunan visual pembaca sebab fokus baca dapat terganggu. Berikut uraian kesalahan penulisan yang telah ditemukan.

1.   Salah = “….sebuah penyerahan yanglembut.” (halaman 258)

Benar  = “….sebuah penyerahan yang lembut.” (halaman 258)

2.   Salah = “..di lengan.Kulityangbersih dan…” (halaman 258)

Benar  = “..di lengan. Kulit yang bersih dan…” (halaman 258)

3.   Salah = “.., baikyang transit…” (halaman 258)

Benar  = “.., baik yang transit…” (halaman 258)  

4.   Salah = “….seperti buah kurmamenua…” (halaman 258)

Benar  = “….seperti buah kurma menua…” (halaman 258)

5.   Salah = “Setiap orangpunya…” (halaman 262)

Benar  = “Setiap orang punya…” (halaman 262)

6.   Salah = “Aku menitidi belakang..” (halaman 263)

Benar  = “Aku meniti di belakang..” (halaman 263)

Terakhir yakni dari segi muatan isi, ditemukan satu penggunaan majas Asosiasi atau perumpaan pada halaman 253, yakni pada kalimat, “Sementara kuku-kukunya dipotong agak meruncing, warnanya merah muda seperti buah kurma menua di pohonnya.” Ditemukan juga sebuah pernyataan sindiran seperti pada halaman 262:

“Setiap orang punya cara sendiri-sendiri. Termasuk minta diselimuti dan diinfus di rumah sakit kayak orang mau mati. Pura-pura kecelakaan nabrak tiang listrik juga biarlah. Pura-pura mencret akut saat sidang juga ada.

Pernyataan tersebut dilahirkan sebagai bentuk sindiran terhdap seorang koruptor picik, Setya Novanto. SetNov membuat gempar seluruh Indonesia dengan dramanya, Ketua DPR, Setya Novanto, yang juga tersangka kasus megakorupsi e-KTP, mengalami kecelakaan pada 17 November 2017 dengan Toyota Fortuner yang ditumpanginya.

0 Komentar

Terima kasih telah singgah sejenak dan membaca aksara di serambi sastra.

Saatnya berbuat dan berkarya, susun rencana sekarang juga, mulailah secepatnya. -Najwa Shihab