KRITIK SASTRA PROSA LIRIS "LEWAT KACA JENDELA" KARYA M. SHOIM ANWAR
Prosa liris, seperti jenis lirik lainnya, termasuk dalam gaya teks ekspresif. Teks ekspresif yang fungsi utamanya adalah mengungkapkan perasaan, pikiran, dll. yang ada pada diri seorang penulis. Istilah teks ekspresif sering dikaitkan dengan puisi lirik. Tetapi tidak semua bentuk puisi dapat diklasifikasikan menjadi jenis ini. Beberapa teks prosa ekspresif, seperti banyak ditulis oleh penulis romantis (Luxemburg et al. 1984: 96). Pandangan ini erat kaitannya dengan pengertian prosa liris dalam kamus istilah sastra disusun oleh Abdul Rozak Zaidan, dkk. (1994:157), yang menggambarkan prosa liris sebagai prosa pewahyuan tema liris yang mengungkapkan perasaan dan pandangan tentang kehidupan penulis. Sementara itu, Sadikin (2011: 8) berpendapat bahwa prosa liris adalah bentuk sastra disajikan seperti puisi namun menggunakan bahasa bebas untuk memecahkan tabiat seperti prosa.
Prosa liris, seperti jenis lirik lainnya, termasuk dalam gaya teks ekspresif. Teks ekspresif yang fungsi utamanya adalah mengungkapkan perasaan, pikiran, dll. yang ada pada diri seorang penulis. Istilah teks ekspresif sering dikaitkan dengan puisi lirik. Tetapi tidak semua bentuk puisi dapat diklasifikasikan menjadi jenis ini. Beberapa teks prosa ekspresif, seperti banyak ditulis oleh penulis romantis (Luxemburg et al. 1984: 96). Pandangan ini erat kaitannya dengan pengertian prosa liris dalam kamus istilah sastra disusun oleh Abdul Rozak Zaidan, dkk. (1994:157), yang menggambarkan prosa liris sebagai prosa pewahyuan tema liris yang mengungkapkan perasaan dan pandangan tentang kehidupan penulis. Sementara itu, Sadikin (2011: 8) berpendapat bahwa prosa liris adalah bentuk sastra disajikan seperti puisi namun menggunakan bahasa bebas untuk memecahkan tabiat seperti prosa.
Membahas mengenai Prosa liris, pada pembahasan kali ini akan disajikan sebuah prosa liris garapan terbaru dari sastrawan handal M. Shoim Anwar. Berikut lirik prosa liris karya M. Shoim Anwar yang berjudul "Lewat Kaca Jendela".
LEWAT KACA JENDELA
M. Shoim Anwar
Sore menjelang senja tiba.
Kepyuran gerimis menyisakan basah tanah.
Bayangan pohonan melenyap tak tersisa.
Udara dingin mulai terasa.
Musim mengirimkan titik-titik air bersama udara.
Waktu berjalan merambat tapi memastikan tibanya.
Di wilayah pinggiran dari kota yang ramai.
Segala perkembangan masih terpantau tak terlewati.
Tanah kosong berumput dan pohonan di sana sini.
Burung-burung berkelepakan mengejar pergantian hari.
Menghabiskan buruan serangga dan makanan hayati .
Kehidupan mengalir melintasi hidup dan mati.
“Innalillahi wainnailaihirojiuun…..”
Dari jendela rumah terdengar suara menggema.
Berbagai masjid dan mushola di berbagai arah
mengabarkan berita duka untuk kesekian kalinya.
Hari-hari kehilangan nyawa para warga.
Bergantian tersiar seperti tak pernah jeda.
Wabah mengganas tak kenal sanak saudara.
Rasa cemas mengambang di udara.
Menunggu giliran siapa selanjutnya.
Lewat kaca jendela terulang lagi pandangan mata.
Supardi berdiri menatap iringan jenazah.
Diusung warga tak banyak jumlahnya
lewat jalan kecil menuju pemakaman di sana.
Langkah mereka tergesa diburu senja.
Di bawah rimbunan pohon-pohon kamboja.
Begitu banyak timbunan masih basah.
Bunga-bunga bertabur di gundukannya.
Nisan putih masih bersih juga.
Pertanda masih bersemayam rasa duka.
“Nyawa seperti tak berharga,” kata Supardi pada istrinya.
“Memang mau dijual berapa?” sergah Supiyah.
“Kapan wabah korona ini musnah?”
“Nanti juga berakhir dengan sendirinya.”
“Kamu seperti tak kawatir apa-apa,” lelaki itu menyelah.
“Kalau takut terus anak-anak makan apa?”
Suasana senyap sementara.
Supardi tak menjawab apa-apa.
Istrinya menatap menunggu jawabannya.
Lelaki itu tetap menerawang keluar jendela.
“Tubuh masih gagah, masak takut dengan si korona!”
Perempuan itu melontarkan kata.
“Virus tak pandang usia,” Supardi angkat bicara.
“Terus ngeram di rumah mau makan gombal apa?”
Supardi menjaga jiwa raga di dalam rumah.
Hari-hari dilalui di depan jendela.
Rasa kawatir tak pernah meredah.
Lebih baik hati-hati daripada kena musibah, pikirnya.
Para tetua, bahkan teman-teman seusianya,
telah banyak yang meninggal tak terkira.
Mbah Gisa, Mbah Rokayah, Wak Sana, Nyai Asemah,
Mardana, Nugraha, Sopingah, Lapisah, dan Misenah telah tiada.
Kabar duka berkumandang mendera.
Menyiutkan langkah diliputi gamang rasa.
Tapi lain lagi dengan Supiyah.
Dia sadar korona memang jadi berita.
Entah ada atau sekadar omongan saja.
Orang meninggal juga dilihatnya di mana-mana.
Suara toa pun tak henti mengumandangkannya.
Awalnya perempuan itu menciut nyali juga.
Suami lebih dulu memutuskan di rumah saja.
“Rakyat menderita, para pejabat di pusat makin kaya, ”
kata Supiyah .
“Kok bisa?” suami menyelah.
“Rakyat yang ingin periksa kesehatan taripnya termahal di dunia.
Pejabat memanfaatkan wabah untuk ngeruk kekayaan di atas derita.”
“Kamu tahu itu dari mana?”
“Orang-orang di pasar semua melek berita.
Para pejabat kong kalikong jual obat dan alat kesehatan segala.”
Supiyah orang pasar.
Jualan tiap hari agar perut keluarga tak lapar.
Penyakit datang dan pergi biarlah seperti orang kesasar.
Semua akan pulang sebelum waktu asar.
Di pasar omongan soal korona selalu didengar.
Berubah-ubah kayak pagebluk tak nyambung di nalar.
Orang-orang yang katanya pintar banyak adu cakar.
Dalam bencana masih menjarah di luar takar.
Seperti tak peduli banyak orang miskin terkapar.
“Jangan dekat-dekat. Kamu membawa virus!” Suparlan berujar.
“Kalau gak mau didekati ya ke kuburan sana!” Supiyah menyambar.
“Kamu kan dari pasar.”
“Kalau dilarang ke pasar, ganti sampean yang kerja biar dapat bayar!”
Supiyah hampir gusar. Tiap hari suami menyulut bertengkar.
Anak-anak tahunya makan tiap hari.
Sudah jadi kewajiban orang tua untuk menghidupi.
Tapi bapaknya hanya duduk di kursi.
Tak juga berangkat mencarikan barang sesuap nasi.
Alasannya virus korona ganas sekali.
Tak terhitung orang yang telah mati.
Si ibu yang harus melangkahkan kaki.
Jual sayuran dan tahu tempe sehari-hari.
Menyambung hidup dengan menghitung jari.
Mikir modal bisa untung atau malah rugi.
Malam merambat dengan pasti.
Musim hujan mencapai puncak bulan ini.
Suara geluduk di langit pecah berkali-kali.
Menggetarkan rumah beserta isi.
Angin bertiup kencang sekali.
Kilat menyambar-nyambar melecuti.
Cahayanya menembus rumah bagai api.
Hujan terus menderas disurung angin tak terperi.
Supardi mendongak ke langit-langit lagi.
Rumahnya bocor mengalir seperti sungai.
Malam itu Supardi merasa harus bertindak juga.
Genting rumahnya menyingkap mengaga.
Jatuh menerjang langit-langi hingga ambrol ke bawah.
Air hujan mengucur menggenang dalam rumah.
“Parah! Parah!” katanya.
“Banjir masuk rumah!” seru Supiyah.
Sementara anak-anak diminta dalam kamar saja.
Supardi berlari ingin menyelesaikan masalah.
Diambilnya tangga di luar sana.
Masuk lagi dengan menggigil basah semua.
Dengan tangan bergetar menyanggah berat tangga.
Diselonjorkan ke atas untuk naik membawa dirinya.
Hujan tambah menderas terasa.
Supardi naik tangga hampir mencapai puncaknya.
Tangga nyaris tegak tak tampak kemiringannya.
Bagian atas rumah yang basah merata hampir diraihnya.
Air terus mengucur dari lubang genting yang menganga.
Lelaki itu sebentar lagi melompat masuk langit-langit rumah.
Kakinya menekan anak tangga mengumpulkan tenaga.
Saat Supardi mengangkat kaki dari pijakannya,
posisi tangga oleng ke belakang bersama dirinya.
Lantai yang basah menggelincirkan tangga.
Lelaki itu terbanting ke belakang ditimpa tangga pula.
Tengkuknya terbentur bibir meja,
lalu menghantam lantai tanpa pelindung apa-apa.
Supiyah menjerit tak terkira.
Suaminya berkapar di lantai rumah.
“Innalillahi wainnailaihirojiuuun….”
Malam itu saat hujan telah meredah.
Kembali terdengar berita duka dari toa mushola.
Supardi telah meninggal dunia.
Ada yang terjingkat mendengarnya
Karena Supardi tak menderita sakit karena korona.
Surabaya, 3 Maret 2022
Secara garis besar, prosa liris karya M. Shoim Anwar yang berjudul "Lewat Kaca Jendela" bercerita mengenai kisah kehidupan masyrakat di era gempuran pagebluk Korona, warga tersebut digambarkan dengan tokoh Supardi dan Supiyah. Berfokus pada kedua tokoh tersebut, penulis mulai membangun visual pembaca dengan menciptakan suasana kehidupan nyata yang berlandaskan kehidupan pribadi dan sosial dari kedua tokoh. Terdapa pula tokoh-tokoh selingan yang semakin melengkapi suram serta muramnya suasana lingkungan sosial pada saat pagebluk Korona itu mengganas, seperti disebutkannya Mbah Gisa, Mbah Rokayah, Wak Sana, Nyai Asemah, Mardana, Nugraha, Sopingah, Lapisah, dan Misenah yang telah meninggal akibat terjangkit virus Korona ini.
M. Shoim Anwar dalam Prosa liris yang berjudul "Lewat Kaca Jendela" telah berhasil bercerita dengan karya seaakan berusaha mengabadikan setiap dentuman duka serta lara yang dirasakan oleh segenep masyarakat Indonesia di era pagebluk Korona yang melahirkan banyak dampak negatif bagi mereka. Namun bukan M. Shoim Anwar namanya jika tidak memiliki ciri khas yang uniqe disetiap tulisannya, kali ini pada Prosa liris yang berjudul "Lewat Kaca Jendela" menggelindigkan sebuah Plot twist yang tak terduga. Tokoh Supardi ditiadakan bukan sebab terjangkit virus, namun tersebab kejadiaan yang tak ada sangkut pautnya dengan virus. Pada akhir cerita pembaca dikejutkan dengan kisah meninggalnya Supardi, yakni disebabkan tergelincirnya tangga Supardi yang dijadikannya sebagai pijakan ketika memperbaiki atap rumah yang menyebabkan tengkuknya terbentur bibir meja dan hal tersebut membuat Supardi meninggal seketika dibawah lebatnya rerimbunan hujan. Innalillahi wainnailaihirojiuuun…
Secara keseluruhan, saya sangat menikmati setiap kata dan rajutan kalimat yang dibuat oleh M. Shoim Anwar dalam Prosa lirisnya yang berjudul "Lewat Kaca Jendela". Saya sebagai pembaca seaakan teringat kembali akan masa-masa kelam tersebut, teringat kembali gaungan toak masjid yang menggebu-gebu melatunkan kalimat istirja'. Namun masih ditemukan beberapa kesalahan penulisan seperti:
- Bait 13 baris kedua: Genting rumahnya menyingkap mengaga. Seharusnya menganga yang berarti terbuka lebar.
- Bait 13 baris ketiga: Jatuh menerjang langit-langi hingga ambrol ke bawah. Seharusnya Langit-langit yang berarti atap rumah.

0 Komentar
Halo kamu.. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk singgah dan membaca. Kritik serta saran juga penulis butukan untuk mengembangkan segala aspek pendukung dalam blog ini. Tulis komentar mu dengan bahasa yang baik ya^^ karena segala sesuatu yang baik akan memberikan buah yang baik pula kepada mu.