KAJIAN SEMIOTIKA PADA CERPEN "BERINGIN TUA" KARYA M. SHOIM ANWAR
Cerpen merupakan salah satu bentuk prosa
fiksi, sebagai karya fiksi cerpen dalam penciptaanya melalui peng-imajinasian
yang diuraikan dalam bentuk cerita fiktif dan sering menggunakan penandaan
berupa ikon, indek dan simbol dalam pengisahan ceritanya karena di dalam tanda
terdapat makna-makna yang tersembunyi. Oleh karena itu, untuk menangkap atau
memahami makna tersembunyi dalam cerpen tersebut dapat dianalisis dengan
menggunakan kajian semiotika.
Dengan semiotik, pembaca dapat menangkap
pesan atau maksud dari cerpen yang berjudul “Beringin Tua Karya M. Shoim Anwar”
yang tidak ditampilkan pengarang secara jelas. Pada saat membaca, seseorang
akan menginterpretasikan dengan cara yang berbeda berdasarkan pemahaman pembaca
tersebut. Namun, semua itu dapat dibatasi oleh adanya pemahaman dalam konvensi
bahasa, sastra, dan budaya sehingga pendekatan yang digunakan dalam kritik
sastra ini adalah pendekatan semiotik, yaitu membahas tanda-tanda dalam cerpen
yang berjudul “Beringin Tua Karya M. Shoim Anwar”.
Tokoh dalam semiotik ini yang terkenal ada
dua orang, yaitu seorang ahli linguistik yang bernama Ferdinand de Saussure
(1857-1913) dan seorang filsafat yang bernama Charles Sander Peirce
(1939-1914). Pada saat itu, Saussure menyebut semiotik dengan ilmu semiologi
dan Pierce menyebutnya semiotik (semiotics). Seperti yang dikemukakan oleh
Peirce semiotika didasarkan pada logika, yaitu bagaimana orang bernalar.
Penalaran tersebut dapat dilihat dari tanda-tanda. Kemudian, pada akhirnya
kedua nama ini sering dipergunakan secara berganti-ganti dengan pengertian yang
sama.
Dalam pengertian Peirce (Noth, 1990: 423),
menawarkan konsep triadik yaitu ikon, indeks, dan simbol. Tetapi harus juga
mempertimbangkan tanda sebagai perwujudan gejala umum, sebagai representamen
(qualisign, sinsign, dan legisign) dan tanda-tanda yang baru yang terbentuk
dalam batin penerima sebagai interpretant (rheme, dicent, dan argument). Dengan
kata lain, di antara object, representamen, dan interpretant, yang paling
sering dibicarakan adalah object (ikon, indeks, dan simbol). Pada dasarnya,
baik ikon maupun indeks dan simbol murni tidak pernah ada. Artinya ikonisitas
selalu melibatkan indeksikalitas dan simbolisasi. Ikon ditandai oleh adanya
kemiripan, indeks ditandai dengan adanya kedekatan eksistensi dan hubungan
sebab akibat, sedangkan simbol ditandai oleh adanya kesepakatan, perjanjian,
dan hubungan yang sudah terbentuk secara konvensional.
Dalam penyajian kritik sastra sosial ini, akan dipaparkan ikon, indeks, dan simbol dalam cerpen “Beringin Tua Karya M. Shoim Anwar”.
1. Penanda
Ikon dalam Cerpen “Beringin Tua Karya M. Shoim Anwar”.
Cerpen “Beringin Tua Karya M. Shoim Anwar”
bercerita seputar usaha seorang Kepala Dinas yang terus di desak oleh Sang
Atasan agar segera memotong pohon beringin tua raksasa yang Bernama Ringin
Contong, beringin tua yang mampu mengangkangi kota sendirian itu berada tepat
di jantung kota santri.
Meski berkisah seputar keresahan seorang
Kepala Dinas yang terus di desak oleh Sang Atasan agar segera menumbangkan
pohon beringin tua di jantung kota, pada dasarnya ada ikon-ikon tertentu yang
ditampilkan di dalam cerpen “Beringin Tua Karya M. Shoim Anwar” sebagai penanda
sosial tertentu, baik lingkungan sosial, keadaan, situasi dan penanda suatu
zaman di dalam cerita. Berikut ini beberapa ikon yang terdapat dalam cerpen
“Beringin Tua Karya M. Shoim Anwar”.
·
Ikon Penanda Lingkungan Sosial
Salah satu penanda yang muncul dalam
cerpen “Beringin Tua Karya M. Shoim Anwar” adalah penanda lingkungan sosial.
Ada narasi dan deskripsi tentang kantor Dinas Pekerja Umum, perempatan jalan, di
bawah beringin dan angkringan di dekat beringin. untuk membuat pembaca memahami
keadaan lingkungan sosial yang dibangun di dalam cerpen.
a. Kantor
Dinas Pekerja Umum.
“dari
halaman kantor Dinas Pekerja Umum lelaki itu menatap beringin yang berada tidak
jauh di sebelah utaranya.” (Halaman 2)
“kepala
dinas berjalan ke arah selatan menuju kantornya.”
(Halaman 5)
“lelaki
setengah tua itu tak menjawab. dia terus saja masuk ke kantor.”
(halaman 5)
“ketika
kantor baru saja buka koma seorang lelaki setengah tua minta bertemu dengan
kepala Dinas Pekerja Umum.” (Halaman 6)
b. Perempatan
jalan.
“kebetulan
dia tumbuh di perempatan jalan sehingga sebagian besar bagiannya bisa dilihat
dari segala penjuru.” (Halaman 3)
c. Di
bawah beringin dan angkringan di dekat beringin.
“siang
itu kepala dinas mendekati orang-orang yang bergerombol di dekat pohon yang
ditawarkan.”
“meski
begitu ia sempat berpikir bahwa pohon itu termasuk pohon yang aneh. Walaupun
buahnya banyak berjatuhan ke bawah tapi sepanjang sejarah tak satupun yang
berhasil tumbuh di tanah itu.”
Diperkuat dengan pernyataan yang
menggambarkan lingkungan sekitar beringin pada paragraf pertama di halaman 6.
“tetapi ketika dia jadi besar beringin ini
mulai menguasai daerah itu titik akar-akarnya
Kini
menjalar kemana-mana. Sulur-sulur nya yang tumbuh dari cabang-cabang atas
selama-lama berubah jadi akar dan menghujam ke tanah semua akar ini akan
mencengkeram ke mana-mana sekarang pohon-pohon yang lain tak kebagian makanan
habis diserap oleh beringin sinar matahari pun dicegat dan disadap diatas
sendirian pohon-pohon yang lain Jadi kurus, layu lalu mati titik bahkan rumput
pun tak diberi kesempatan untuk hidup.”
2. Penanda
Indeks dalam Cerpen Teman Kencan karya Eka Kurniawan
Indeks merupakan penanda yang bersifat
kausalitas yang terdapat di dalam suatu cerita. Berikut ini beberapa indeks
yang berbentuk kausalitas yang menandakan suatu pertanda tertentu di dalam
cerita pendek “Beringin Tua Karya M. Shoim Anwar”
· · Indeks perilaku yang menjadi penanda perasaan tokoh utama.
Salah satu hal yang menonjol dalam cerpen
Teman Kencan adalah perilaku yang dihadirkan penulis di dalam cerita terkait
dengan tokoh utama. Di dalam cerita, tokoh utama ditampilkan dengan berbagai
sifat dan perilaku yang menujukkan adanya kecemasan. Tokoh utama seolah sedang
melakukan sesuatu yang baru sehingga mengalami berbagai macam kegugupan dan
kecemasan.
Tokoh utama pada cerpen beringin tua yakni
seorang kepala Dinas Pekerja Umum. Ia cemas dan terus merasa gundah dikarenakan
tuntutan dan perintah Sang Atasan agar segera memotong pohon beringin tua yang
berada tak jauh dari kantor Dinas Pekerja Umum. Ia merasa cemas dikarenakan
pohon tersebut merupakan pohon keramat yang dipercayai oleh masyarakat sebagai
punden yang jika pohon beringin tersebut di tebang maka akan menimbulkan
masalah dan bencana. Pohon tersebut diselimuti oleh tahayul yang dibuat oleh masyarakat
di kota santri. Kecemasan tersebut bisa dilihat pada penggalan paragraf
berikut.
“Dia
sendiri sebenarnya juga tak berani memotong beringin itu. sama seperti
gerombolan orang-orang tadi.” (Halaman 5)
Kecemasan
tersebut diperkuat dengan pernyataan yang dibuat oleh penulis dalam kalimat
selanjutnya di halaman 5.
“Dia
cemas. Sekarang dia berhenti dan membalikkan tubuhnya. Beringin itu
dipandangnya Kembali.”
Masih
dalam paragraf yang sama penulis menggambarkan kecemasan sang tokoh utama
dengan menghiaskan bahwa .
“beringin
yang menjulang ke langit itu seperti mengejeknya”.
Bahkan
tokoh utama merasa bahwa pohon tersebut sedang mengejeknya dikarenakan Ia belum
selama ini belum mampu memotong dan memangkasnya. Sehingga ungkapan “seperti
mengejeknya” tersebut sebagai wujud rasa cemas dan keputus asaan yang
memuncak.
3. Simbol dalam Cerpen “Beringin Tua Karya M.
Shoim Anwar”
Simbol merupakan penanda yang telah disepakati secara umum sebagai suatu penanda dalam menandakan sesuatu. Simbol ini biasanya pemaknaanya berbentuk arbitrer.Berikut ini beberapa simbol yang terdapat dalam cerpen “Beringin Tua Karya M. Shoim Anwar”.
·
Simbol Gaya Hidup
Sebagaimana dalam ikon dan indeks yang
hadir di dalam cerita Teman Kencan, salah satu simbol yang paling menonjol
adalah simbol gaya hidup tokoh utama. Pelaku utama ditampilkan sebagai
seseorang yang memiliki simbol-simbol tertentu untuk merepresentasikan dirinya.
Salah satusimbol gaya hidup yang ditampilkan pelaku sangat erat kaitannya
dengan kehidupan mahasiswa yang sedang dijalaninya.
Pada
awal cerita dalam cerpen beringin tua (halaman 1), pembaca disambut dengan
pernyataan pada ada kalimat.
"kata
orang, memotong beringin itu bisa celaka.”
Penulis
juga memperkuat pernyataan tersebut dengan menuliskan pernyataan selanjutnya
yakni,
"anggapan
ini telah menjalar ke mana-mana.”
Hal
ini membuktikan bahwa memotong beringin dapat menjadikan atau menimbulkan
celaka merupakan gaya hidup yang sudah dijadikan sebagai acuan pedoman,
kepercayaan bagi masyarakat setempat di kota santri.
Kemudian
pada halaman 3 terdapat dialog yang berbunyi,
"Sudah
5 tahun baru minta petunjuk,”
dialog
tersebut membuktikan bahwa usaha untuk memotong atau memangkas pohon beringin
tersebut sudah dilakukan sejak lama dengan berbagai macam usaha dan berbagai
macam strategi namun hingga saat ini beringin tersebut belumlah mampu
ditumpangkan karena selimut tahayul yang tebal tersebut.
Penulis
juga menggambarkan gaya hidup si tokoh utama yakni Kepala Dinas Pekerja Umum yang
diperlihatkan pada paragraf kedua di halaman 6.
“pagi-pagi
benar, ketika kantor baru saja buka seorang lelaki setengah dua minta bertemu
dengan kepala dinas bekerja umum.”
Terdapat kata pagi-pagi benar pada penggalan kalimat diatas dan disertai dengan keterangan bahwa ada seorang laki-laki setengah dua yang meminta bertemu dengan kepala dinas bekerja umum dari pernyataan tersebut dapat diketahui bahwa kepala dinas bekerja umum termasuk aparatur atau pegawai yang memiliki gaya hidup yang rajin dan disiplin.
Selain Peirce (Noth, 1990: 423), Barthes (dalam Tarsyad, Tanpa tahun:6) juga mengungkapkan bahwa ada lima sistem kode dalam kajian semiotik, yaitu 1) kode teka-teki, 2) kode konotatif, 3) kode simbolis, 4) kode aksian, dan 5) kode budaya. Namun dalam cerpen ini hanya ditemukan kode teka-teki, kode simbolis, dan kode budaya.
Kode
Teka-teki Cerpen “Beringin Tua Karya M. Shoim Anwar”.
Kode teka-teki berkisar pada harapan
pembaca mendapatkan nilai kebenaran terhadap pertanyaan-pertanyaan yang muncul
dalam karya sastra. Dalam narasi tradisional, kode ini menjadi struktur utama.
Ada suatu kesinambungan antara pemunculan suatu peristiwa berteka-teki dan
penyelesainnya dalam cerita. Kode ini membangkitkat hasrat dan kemauan untuk
menemukan jawaban ataspertanyaan yang dikandungsebuah karya prosa fiksi.
Di
akhir cerita dalam cerpen “Beringin Tua Karya M. Shoim Anwar” terdapat
teka-teki mengenai sosok atau tokoh sairin yang pada pertengahan cerita
digambarkan bahwa syair merupakan seorang dukun yang datang menemui kepala
dinas pekerja umum ketika kantor baru saja buka. Teka-teki mengenai tokoh
sairin dimunculkan oleh pengarang pada akhir cerita yakni pada halaman 10 paragraf
ketiga dalam penggalan kalimat berikut.
“Ada
kabar meluncur bahwa sairin bukanlah seorang dukun. dia Cuma pura-pura seperti
dukun.”
Tokoh
sairin tetap menjadi misteri dan menjadi teka-teki hingga akhir cerita sebab
penulis tidak mengungkapkan siapa sebenarnya tokoh sairin yang menjadi dukun
dan yang mengatur jalannya pemotongan beringin kala itu.
Teka-teki
kedua yang menjadi clue dalam kisah dan peristiwa ini terdapat pada
halaman 4 yakni pada kalimat
“tapi,
meskipun kota ini dikenal sebagai kota santri, sampai kini belum terdengar hasilnya.”
Kota santri di sini memiliki rujukan yang beragam, dikarenakan ada beberapa kota yang memperoleh julukan kota santri di Indonesia namun beringin tua yang bernama ringin contong itu bisa dijadikan sebagai rujukan kota santri mana yang dimaksud oleh penulis. Teka-teki ini bisa dijawab dengan cara menelusuri kisah dan asal muasal M Shoim Anwar sebagai penulis karena pada hakekatnya kota santri yang tercantum dalam kisah Beringin Tua ini adalah merujuk pada kota Jombang yang menjadi tempat lahir dari penulis sehingga ringin contong ini menjadi ikon kota Jombang yang berada di pusat kota.
Kode
Simbolis Cerpen “Beringin Tua Karya M. Shoim Anwar”.
Kode simbolis adalah dunia lambang, yaitu
dunia personifikasi manusia dalam menghayati arti hidup dan kehidupan. Simbol
merupakan aspek pengkodean fiksi yang paling khasbersifat structural.
Pengenalan symbol dilakukan melalui kelompok-kelompok bentuk yang teratur,
mengulangi bermacam kode dan maksud dalam teks.
Jika
ditelusuri secara mendalam simbolis ini merujuk kepada Beringin Tua itu sendiri
karena Ringin Contong atau beringin Contong yang keramat serta wingit itu
memang betul-betul ada di kehidupan nyata bukan sekadar kreativitas yang dibuat
oleh pengarang berdasarkan hasil imajinasinya. Sehingga dapat dikatakan bahwa
beringin tua tergolong dalam kode simbolis sebagai perwakilan dari kota Jombang
yang mengisahkan sejarah dan asal-usul kota Jombang karena diketahui Ringin Contong
itu sudah ada sejak zaman kerajaan Mataram dan hingga sekarang masih berdiri
kokoh di perempatan jalan dan dikenal dengan titik Nol kota Jombang.
Simbol
selanjutnya yang digunakan oleh masyarakat kota Jombang atau kota santri untuk
menggambarkan keagungan pohon beringin atau Ringin Contong ini adalah dengan
menjadikannya sebagai punden atau memberi istilah punden bagi
pohon beringin tersebut. Punden sendiri memiliki makna tempat yang
terdapatnya makam orang yang dianggap sebagai cikal bakal masyarakat desa;
tempat keramat atau sesuatu yang sangat dihormati. Ringin Contong dipercaya
menjadi tempat persinggahan Kebo Kicak dalam pengejarannya terhadap Surontanu dan
Banteng Tracak Kencana yang akan ditunjukkan sebagai tumbal terkait munculnya
page blog atau Apa penyakit yang sulit disembuhkan di daerah pada bukan
pancuran Cukir.
Berkaitan
dengan hal itulah pada halaman 7 penulis menyatakan bahwa sairin yang bertindak
sebagai dukun meminta untuk disediakan 3 kepala kerbau untuk ditanam di bawah
pohon sebagai bentuk ritual. 3 kepala kerbau ini bisa saja menggambarkan
sejarah mengenai ringin contong yang melibatkan Kebo Kicak, Surontanu, dan Banteng
Tracak Kencana.
Kode
Budaya Cerpen “Beringin Tua Karya M. Shoim Anwar”.
Kode budaya merupakan acuan teks kepada
benda-benda yang sudah diketahui dan dikodifikasi oleh budaya. Kodeini merupakan
peran metalingual, yakni pengkajian yang dilakukan dalam masyarakatmengenai
hubungan faktor bahasa dan nonbahasa. Metalingual tampak bila dihubungkan
kejadian dalam teks dengan realitas budaya.
Kode
budaya dalam cerpen dapat dilihat pada halaman 2 di paragraf pertama.
“pohon
yang tumbuh di jantung kota itu memang sudah amat purba.”
Jika
ditelusuri sejarahnya pohon beringin tua atau ringin contong ini sudah ada
sejak zaman kerajaan Mataram kuno maka tak heran jika pengarang memberikan kata
purba sebagai bentuk kode budaya yang menggambarkan usia dari contoh tersebut. Lalu
di halaman 4 yang menjadi kode budaya tergambar dalam dialog.
“bapak
lihat rumah pohon itu sudah menjadi punden.”
kode
budaya selanjutnya terletak pada halaman yang sama ma di paragraf yang berbeda
dalam penggalan dialog sebagai berikut. Bukannya nyembah pohon pak, kata guru
Saya di SD dulu nyembah yang menguasai pohon, itu yang dilakukan nenek
moyang dulu.”
Yang
perlu digaris bawahi adalah kata nenek moyang dulu, hal ini membuktikan
bahwa kepercayaan atau tahayul mengenai Ringin Contong telah ada dan berlaku sejak
zaman dahulu dan masih lestari hingga masa kini.
“malah dokternya menyerah pada dukun.”
Seperti
yang kita ketahui masyarakat Indonesia masih sangat kental dan sangat
mempercayai tahayul-tahayul yang beredar di masyarakat kejadian semaput massal
yang berada tak jauh dari beringin tua yang dibabat atau dipangkas itu
dijadikan sebagai pendukung akar tahayul yang diciptakan masyarakat dan
penggunaan jasa dukun sebagai jalan keluar akan segala persoalan membuktikan
keberadaan budaya masyarakat jawa di Indonesia.
KRTIK SASTRA
Masih dalam atmosfer karya-karya M. Shoim Anwar, cerita yang berjudul “Beringin Tua” mampu membuat saya sebagai pembaca merasa memiliki pengetahuan baru, dengan melakukan analisis terhadap kode, indeks, dan simbol dalam cerita “Beringin Tua” membuat pembaca seolah memperoleh informasi baru mengenai sejarah suatu kota di Jawa Timur. Beringin Tua yang diberi nama Ringin Contong ini menjadi Ikon kota Jombang dan menjadi sentral dalam kisah ini. Pemilihan kota Jombang tak lain dan tak bukan karena penulis yakni M. Shoim Anwar lahir di kota santri ini. Penulis mencoba mendeskripsikan keadaan sosial setempat dan mengangkatnya menjadi sebuah permainan kata yang apik dalam sebuah cerpen. Penggunaan bahasa yang sederhana dan tidak berbelit, penggunaan serta pemilihan kode yang pas membuat cerita “Beringin Tua” ini sangat menarik untuk di baca. Meskipun ada beberapa hal yang tidak sama dengan kenyataan namun hal tersebut sah dalam penulisan karya sastra. Imajinasi tak pernah salah. Dengan melahirkan beberapa kode, indeks, serta simbol yang menjadi penopang tema cerita membuat pembaca seolah tertarik menelusuri keberadaan dan kisah kebenaran dibalik “Beringin Tua” ini. Pemberian karakter dan watak dalam setiap tokoh nya mampu mambangun visual yang baik bagi pembaca, racikan ending yang tak terduga berhasil menjadi Jumpscare bagi pembaca. Luar biasa.
Saran
Terdapat beberapa penulisan kata dan kalimat yang perlu diperhatikan. Seperti kurangnya spasi dan kesalahan penulisan. Kerapian tulisan sangat mempengaruhi mood baca dan informasi yang di terima. Karena hanya dengan penulisan yang belum sesuai itu lah konsentrasi dan visual pembaca yang telah terbangun dapat gugur dan menghambat fokus baca. Seperti:
1. Mengigat yang seharusnya Mengingat (halaman 4)
2. Spasi setelah tanda baca "titik" pada kalimat. "...... bergaris-garis putih tampak pula.Celananya kelihatan kebesaran," yang seharusnya "...... bergaris-garis putih tampak pula. Celananya kelihatan kebesaran," (halaman 6)
3. Spasi setelah tanda baca "titik" pada kalimat. "......di bawah lututdan mirip sarung," yang seharusnya "......di bawah lutut dan mirip sarung," (halaman 6)
4. Spasi setelah tanda baca "titik" pada kalimat. "......melakukan adegan yang samaselama beberapa kali." yang seharusnya "....melakukan adegan yang sama selama beberapa kali."


0 Komentar
Halo kamu.. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk singgah dan membaca. Kritik serta saran juga penulis butukan untuk mengembangkan segala aspek pendukung dalam blog ini. Tulis komentar mu dengan bahasa yang baik ya^^ karena segala sesuatu yang baik akan memberikan buah yang baik pula kepada mu.