ESTETIKA PUISI KEMATIAN - Analisis puisi Kain Kafan: Joko Pinurbo (2000)




 

ESTETIKA KEMATIAN

 

Perbincangan tersurat untuk topik diskusi kali ini, mengulas faal sastrawan yang tak sedikit menulis tentang kematian yang dihubungkan dengan dirinya sendiri. Bagaimana ini bisa terjadi?

Baik, mari telaah secara logis dan perlahan. Sesuatu yang dapat dipastikan bahwa ada banyak latar belakang yang mendasari seorang sastrawan mewujudkan kematian dan mematrinya dengan dirinya sendiri, namun salah satu hal mutlak yang bisa dijadikan landasan ialah karena kesadaran akan kematian yang membuat umat manusia dan individu-individu menjadi matang secara spiritual termasuk sastrawan itu sendiri sehingga mereka berani hadir dengan selimut kisah kematian yang dianggap menakutkan oleh banyak kalangan. Seperti dipaparkan Bapak M. Shoim Anwar pada buku Sastra Merespon Dinamik Zaman (M. Shoim Anwar:133) dituliskan bahwa, “Memikirkan kematian membuat manusia menjadi manusia, pantas dirayakan ketika manusia untuk pertama kali membicarakan tema kematian, karena saat itu yang menandai peralihan ke kematangan”, “Barang siapa mengenal kematian dia juga mengenal hidup dan barangsiapa melalaikan kematian dia juga melalaikan kehidupan.”

Segala hal yang berunsur keindahan adalah Estetika, namun Estetika juga dapat berarti sebagai pencipta sebuah simbol-simbol. Estetika sebagai penciptaan simbol-simbol yang wujud dari perasaan manusia sebagai hasil kesenian dan juga sesuatu. Ia juga mewakili perasaan manusia, maksudnya disini estetika bersifat simbolisme. Simbol-simbol yang dimaksud bukan saja hasil karya seni tetapi juga hasil binaan yang mempunyai simbol tersendiri yang diciptakan oleh manusia. Estetika mempunyai ciri-ciri yang luas seluas bidang cakupan nya antara, ciri-ciri estetika adalah wujud yaitu kenyataan yang nampak secara konkrit melalui panca indra maupun kenyataan yang tidak dapat dilihat secara konkrit yakni abstrak yang hanya dapat dibayangkan seperti sesuatu yang diceritakan maupun dibaca dalam buku, Seperti seni manusia atau mengenai alam semesta ini. Serupa halnya bab kematian.

Tidak dapat dipungkiri bahwa begitu maraknya tema kematian yang ditulis oleh penyair Indonesia maupun dunia. Kematian seakan-akan menjadi tema besar yang membayang-bayangi para penyair. Nama-nama besar seperti Chairil Anwar, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono, Subagio Sastrowardoyo, Abdul hadi WM, Acep Zamzam Noor hampir dapat kita jumpai tema kematian pada beberapa puisinya. Berbeda dengan kebanyakan penyair lainnya yang cenderung mengungkap kematian dengan gaya liris.
Kematian dalam puisi Joko Pinurbo digambarkan melalui simbol-simbol unik. Dengan kata lain, puisi-puisi yang ditulis Joko Pinurbo berbeda dari tradisi besar puisi lirik pada umumnya. Mari kita fokuskan pada salah satu puisi karya Joko Pinurbo berikut:

 

KAIN KAFAN
Karya: Joko Pinurbo (2000)

Kugelar tubuhku di atas ranjang
seperti kugelar kain kafan yang telah dibersihkan.

Siapa yang tidur di atas kain putih ini semalam?
Kutemukan bercak-bercak darah: gambar wajah
yang kesakitan dan luka lambung yang belum disembuhkan.

Kulipat tubuhku di atas ranjang
seperti kulipat kain kafan yang kaujadikan selimut tadi malam.

Judul Puisi “Kain Kafan” merupakan frasa dengan penggabungan kata “kain” dan kata “kafan”. Kata kain berarti tenunan benang, sedangkan “kafan” sendiri sudah memiliki arti sebagai kain berwarna putih untuk pembungkus mayat. Dapat dikatakan judul puisi ini merupakan konotasi, karena kain kafan yang dimaksud oleh aku lirik bukan sekadar kain kafan pembungkus mayat melainkan hubungan yang menggambarkan eskatologis (dirujuk sebagai kiamat), situasi batas yang digambarkan dengan simbol-simbol kematian.

Puisi Kain Kafan yang ditulis Joko Pinurbo adalah puisi yang ditulis berdasarkan kesadaran aku lirik dalam merenungkan kematian dengan menggunakan segala kemampuannya mengolah simbol-simbol dan mengolah peristiwa sejarah. Ranjang menjadi benda yang tidak hanya sekadar benda melainkan symbol yang berada di luar batas kesadaran manusia. Kain kafan dihadirkan dengan penuh makna dan keambiguitasannya. Simbol “kain kafan” sebagai pakaian terakhir yang dibawa ke alam kubur.

Salah satu unsur estetika dalam puisi Kain Kafan ialah puisi yang sarat dengan majas. Dalam Puisi "Kain Kafan" tidak semua kalimat mengandung majas (gaya bahasa). Hanya ada tiga kalimat yang penulis temukan menggunakan gaya bahasa perbandingan. Terdapat pada kalimat pertama, ketiga dan keempat. Majas-majas tersebut diantaranya majas simile, hiperbola dan sinekdoke pars pro toto. Kalimat pertama ini mengandung majas simile yaitu majas pertautan yang membandingkan dua hal yang secara hakiki berbeda, tetapi dianggap mengandung hal yang serupa. Aku lirik menautkan antara tubuh dengan kain kafan sehingga menimbulkan kesan hubungan yang erat antara keduanya. Selain itu terdapat majas hiperbol yaitu sebuah kiasan yang dibesar-besarkan. Fungsi verba Kugelar tubuhku memiliki pengertian yang berlebihan. Tubuh pada kalimat ini mengesankan sesuatu yang besar layaknya sesuatu yang dapat digelar. Hal ini dilakukan demi tercapainya efek berlebihan pada kata tubuh di dalam puisi. Majas simile terlihat pada penggunaan konjungsi pembanding. Majas pars pro toto terlihat dalam penggunaan simbolik tubuh dan kain kafan yang mewakili keseluruhan yakni batas antara fisik dan metafisik.

Kesadaran akan kematian dalam puisi ini dideskripsikan lewat jalinan cerita, bagaimana tubuh mampu mewakili entitas dari ruh, jiwa, waktu, usia bahkan aku. Kain kafan sebagai benda yang memiliki dua dimensi pemisah antara yang hidup dan mati namun tetap
memiliki jarak. Hal ini tercermin dalam kata-kata yang dipilih aku lirik seperti tubuh, kain kafan, Kain putih, ranjang dan lain-lain. Hubungan eskatologis antara tubuh dan sang pencipta, pertautan tubuh manusia dan tubuh Yesus, kefanaan dunia dan drama kematian Yesus di
atas salib. Makna-makna yang didapatkan ini jika disimpulkan akan menghasilkan
satu jalin keadaan, yaitu: hidup manusia yang selalu berdampingan dengan
kematian dan Tuhan sebagai tempat kembali yang hakiki.

Di dalam Islam juga terdapat sebuah Estetika kematian yang sangat legendaris hingga kini masih terlestarikan. Islam sebagai agama yang bersifat universal, disamping dalam ajarannya diajarkan etika, Islam juga mengajarkan estetika dalam aplikasi kehidupan sehari-hari. Salah satu estetika dalam menerjemahkan kematian sebagai mana yang diajarkan oleh Syekh Jalaluddin Ar-Rumi lewat tarekat Maulawiyah yang dikenal dengan nama “Tarian Sufi.” Di antara nilai yang ditonjolkan dalam gerakan tarian ini untuk mengingatkan kita kepada kematian. Gerakan sufistik merupakan ekspresi keindahan (estetika) dan mahabbah (kecintaan) yang berkenaan dengan zikir dan pikir yakni mengingat dan memikirkan tentang khalqillah (ciptaan Allah SWT) menuju ke gerbang transdental paling akhir untuk berjumpa dengan sang Khalik dengan terlebih dulu harus melewati pintu kematian.

Sehingga dapat disimpulkan mengapa kematian dikatakan sebagai sebuah estetika, hal tersebut ditimbulkan dari faal sastrawan yang mewujudkan dalam bentuk sebuah karya sastra, yang mana di dalamnya terdapat pilihan kata yang menari indah. Selain dalam puisi, estetika juga dapat ditemukan dalam cerpen, tarian dan masih banyak lagi. Meskipun bertemakan kematian namun melalui eksplorasi bahasa yang khas dalam puisi, pengarang akan menampilkan aspek keindahan yang optimal. Nilai estetik adalah nilai yang berdasar pada keindahan, selain nilai-nilai estetika, di dalam puisi pun terdapat pula pemikiran, ide/gagasan, emosi, bentuk, kesan, dan pesan yang ingin disampaikan pengarang.



 

Oleh: Yety Lailaturohmah 

0 Komentar

Terima kasih telah singgah sejenak dan membaca aksara di serambi sastra.

Saatnya berbuat dan berkarya, susun rencana sekarang juga, mulailah secepatnya. -Najwa Shihab