ESTETIKA KEMATIAN
Perbincangan
tersurat untuk topik diskusi kali ini, mengulas faal sastrawan yang tak
sedikit menulis tentang kematian yang dihubungkan dengan dirinya sendiri.
Bagaimana ini bisa terjadi?
Baik, mari telaah
secara logis dan perlahan. Sesuatu yang dapat dipastikan bahwa ada banyak latar
belakang yang mendasari seorang sastrawan mewujudkan kematian dan mematrinya
dengan dirinya sendiri, namun salah satu hal mutlak yang bisa dijadikan
landasan ialah karena kesadaran akan kematian yang membuat umat manusia dan individu-individu
menjadi matang secara spiritual termasuk sastrawan itu sendiri sehingga mereka
berani hadir dengan selimut kisah kematian yang dianggap menakutkan oleh banyak
kalangan. Seperti dipaparkan Bapak M. Shoim Anwar pada buku Sastra Merespon
Dinamik Zaman (M. Shoim Anwar:133) dituliskan bahwa, “Memikirkan kematian
membuat manusia menjadi manusia, pantas dirayakan ketika manusia untuk pertama
kali membicarakan tema kematian, karena saat itu yang menandai peralihan ke
kematangan”, “Barang siapa mengenal kematian dia juga mengenal hidup dan
barangsiapa melalaikan kematian dia juga melalaikan kehidupan.”
Segala hal yang
berunsur keindahan adalah Estetika, namun Estetika juga dapat berarti sebagai
pencipta sebuah simbol-simbol. Estetika sebagai penciptaan simbol-simbol yang
wujud dari perasaan manusia sebagai hasil kesenian dan juga sesuatu. Ia juga
mewakili perasaan manusia, maksudnya disini estetika bersifat simbolisme.
Simbol-simbol yang dimaksud bukan saja hasil karya seni tetapi juga hasil
binaan yang mempunyai simbol tersendiri yang diciptakan oleh manusia. Estetika
mempunyai ciri-ciri yang luas seluas bidang cakupan nya antara, ciri-ciri
estetika adalah wujud yaitu kenyataan yang nampak secara konkrit melalui panca
indra maupun kenyataan yang tidak dapat dilihat secara konkrit yakni abstrak
yang hanya dapat dibayangkan seperti sesuatu yang diceritakan maupun dibaca
dalam buku, Seperti seni manusia atau mengenai alam semesta ini. Serupa halnya
bab kematian.
Tidak dapat dipungkiri bahwa
begitu maraknya tema kematian yang ditulis oleh penyair Indonesia maupun dunia.
Kematian seakan-akan menjadi tema besar yang membayang-bayangi para penyair.
Nama-nama besar seperti Chairil Anwar, Goenawan Mohamad, Sapardi Djoko Damono,
Subagio Sastrowardoyo, Abdul hadi WM, Acep Zamzam Noor hampir dapat kita jumpai
tema kematian pada beberapa puisinya. Berbeda dengan kebanyakan penyair lainnya
yang cenderung mengungkap kematian dengan gaya liris.
Kematian dalam puisi Joko Pinurbo digambarkan melalui simbol-simbol unik. Dengan
kata lain, puisi-puisi yang ditulis Joko Pinurbo berbeda dari tradisi besar
puisi lirik pada umumnya. Mari kita fokuskan pada salah satu puisi karya Joko
Pinurbo berikut:
KAIN KAFAN
Karya: Joko Pinurbo (2000)
Kugelar
tubuhku di atas ranjang
seperti kugelar kain kafan yang telah dibersihkan.
Siapa yang tidur di atas kain putih ini semalam?
Kutemukan bercak-bercak darah: gambar wajah
yang kesakitan dan luka lambung yang belum disembuhkan.
Kulipat tubuhku di atas ranjang
seperti kulipat kain kafan yang kaujadikan selimut tadi malam.
Judul Puisi “Kain Kafan” merupakan frasa dengan
penggabungan kata “kain” dan kata “kafan”. Kata kain
berarti tenunan benang, sedangkan “kafan” sendiri sudah memiliki arti
sebagai kain berwarna putih untuk pembungkus mayat. Dapat dikatakan judul puisi
ini merupakan konotasi, karena kain kafan yang dimaksud oleh aku lirik bukan
sekadar kain kafan pembungkus mayat melainkan hubungan yang menggambarkan
eskatologis (dirujuk sebagai kiamat), situasi batas yang digambarkan dengan
simbol-simbol kematian.
Puisi Kain Kafan
yang ditulis Joko Pinurbo adalah puisi yang ditulis berdasarkan kesadaran aku
lirik dalam merenungkan kematian dengan menggunakan segala kemampuannya
mengolah simbol-simbol dan mengolah peristiwa sejarah. Ranjang menjadi benda
yang tidak hanya sekadar benda melainkan symbol yang berada di luar batas
kesadaran manusia. Kain kafan dihadirkan dengan penuh makna dan
keambiguitasannya. Simbol “kain kafan” sebagai pakaian terakhir yang dibawa ke
alam kubur.
Salah satu unsur
estetika dalam puisi Kain Kafan ialah puisi yang sarat dengan majas. Dalam Puisi "Kain
Kafan" tidak semua kalimat mengandung majas (gaya bahasa). Hanya ada
tiga kalimat yang penulis temukan menggunakan gaya bahasa perbandingan.
Terdapat pada kalimat pertama, ketiga dan keempat. Majas-majas tersebut
diantaranya majas simile, hiperbola dan sinekdoke pars pro toto. Kalimat
pertama ini mengandung majas simile yaitu majas pertautan yang membandingkan
dua hal yang secara hakiki berbeda, tetapi dianggap mengandung hal yang serupa.
Aku lirik menautkan antara tubuh dengan kain kafan sehingga menimbulkan kesan
hubungan yang erat antara keduanya. Selain itu terdapat majas hiperbol yaitu
sebuah kiasan yang dibesar-besarkan. Fungsi verba “Kugelar tubuhku” memiliki pengertian yang berlebihan.
Tubuh pada kalimat ini mengesankan sesuatu yang besar layaknya sesuatu yang
dapat digelar. Hal ini dilakukan demi tercapainya efek berlebihan pada kata
tubuh di dalam puisi. Majas simile terlihat pada penggunaan konjungsi pembanding.
Majas pars pro toto terlihat dalam penggunaan simbolik tubuh dan kain kafan
yang mewakili keseluruhan yakni batas antara fisik dan metafisik.
Kesadaran akan
kematian dalam puisi ini dideskripsikan lewat jalinan cerita, bagaimana tubuh
mampu mewakili entitas dari ruh, jiwa, waktu, usia bahkan aku. Kain kafan
sebagai benda yang memiliki dua dimensi pemisah antara yang hidup dan mati
namun tetap
memiliki jarak. Hal ini tercermin dalam kata-kata yang dipilih aku lirik
seperti tubuh, kain kafan, Kain putih, ranjang dan lain-lain. Hubungan
eskatologis antara tubuh dan sang pencipta, pertautan tubuh manusia dan tubuh
Yesus, kefanaan dunia dan drama kematian Yesus di
atas salib. Makna-makna yang didapatkan ini jika disimpulkan akan menghasilkan
satu jalin keadaan, yaitu: hidup manusia yang selalu berdampingan dengan
kematian dan Tuhan sebagai tempat kembali yang hakiki.
Di dalam Islam
juga terdapat sebuah Estetika kematian yang sangat legendaris hingga kini masih
terlestarikan. Islam sebagai agama yang bersifat universal, disamping dalam
ajarannya diajarkan etika, Islam juga mengajarkan estetika dalam aplikasi
kehidupan sehari-hari. Salah satu estetika dalam menerjemahkan kematian sebagai
mana yang diajarkan oleh Syekh Jalaluddin Ar-Rumi lewat tarekat Maulawiyah yang
dikenal dengan nama “Tarian Sufi.” Di antara nilai yang ditonjolkan
dalam gerakan tarian ini untuk mengingatkan kita kepada kematian. Gerakan
sufistik merupakan ekspresi keindahan (estetika) dan mahabbah (kecintaan) yang
berkenaan dengan zikir dan pikir yakni mengingat dan memikirkan tentang
khalqillah (ciptaan Allah SWT) menuju ke gerbang transdental paling akhir untuk
berjumpa dengan sang Khalik dengan terlebih dulu harus melewati pintu kematian.
Sehingga dapat
disimpulkan mengapa kematian dikatakan sebagai sebuah estetika, hal tersebut
ditimbulkan dari faal sastrawan yang mewujudkan dalam bentuk sebuah karya
sastra, yang mana di dalamnya terdapat pilihan kata yang menari indah. Selain
dalam puisi, estetika juga dapat ditemukan dalam cerpen, tarian dan masih
banyak lagi. Meskipun bertemakan kematian namun melalui eksplorasi bahasa yang
khas dalam puisi, pengarang akan menampilkan aspek keindahan yang optimal.
Nilai estetik adalah nilai yang berdasar pada keindahan, selain nilai-nilai
estetika, di dalam puisi pun terdapat pula pemikiran, ide/gagasan, emosi,
bentuk, kesan, dan pesan yang ingin disampaikan pengarang.
Oleh:
Yety Lailaturohmah

0 Komentar
Halo kamu.. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk singgah dan membaca. Kritik serta saran juga penulis butukan untuk mengembangkan segala aspek pendukung dalam blog ini. Tulis komentar mu dengan bahasa yang baik ya^^ karena segala sesuatu yang baik akan memberikan buah yang baik pula kepada mu.