ANALISIS ESTETIKA PUISI KEKERASAN: Ulama Bhisma Terkunci Langkahnya: M. Shoim Anwar (2020)


 

Estetika Kekerasan

Berbicara mengenai inspirasi, Inspirasi secara umum adalah dorongan yang muncul pada seseorang yang mampu merangsang pikiran manusia untuk melakukan tindakan yang berhubungan dengan hal kreatif. Inspirasi dapat muncul kapan saja dan dimana saja bahkan secara tiba-tiba. Tapi kemunculan inspirasi juga dapat kita rangsang oleh sesuatu, meski tidak pasti kapan munculnya. Untuk merangsang kemunculan inspirasi kita bisa melakukan sesuatu seperti mendengar, merasakan, ataupun melakukan suatu tindakan secara langsung. Begitu pula pada sumber inspirasi dalam menulis dan berkarya, datangnya bisa dari kehidupan sehari-hari baik yang di dengar, dirasakan dan juga datang dari suatu tindakan langsung maupun tidak langsung karena ada banyak hal yang terjadi di sekitar kita dan itu dapat diangkat menjadi sebuah karya. Intinya cerita yang relevan justru menarik atensi masyarakat.

Contoh inspirasi yang muncul dari merasakan dan timbul dari keresahan: muatan cerita model sastra seperti novel, cerpen, puisi, Syair. dsb. yang bermaterikan kekerasan sudah menjadi tema aktual untuk dibicarakan sepanjang waktu, banyak kasus yang bisa mendasari adanya sebuah kekerasan dalam suatu lingkungan atau hubungan. Rentetan kisah yang melatarbelakangi nya mampu melahirkan sebuah inspirasi bagi pendengar maupun penglihatannya Sehingga beberapa sastrawan memutuskan untuk menggelandang tema kekerasan tersebut dan Ia lukiskan kisahnya dengan gaya yang unik sesuai khas dalam diri mereka sebagai sebuah jati diri. Contoh kasus nya dalam puisi karya bapak M. Shoim Anwar yang bertajuk:

Ulama Bhisma Terkunci Langkahnya.

Ulama Bhisma adalah guru para kesatria

tutur langkahnya dianut para kawula

tapi seusai perjudian tahta curang durjana

ia memilih hidup dalam tembok istana

segala hajat hidup dipenuhi raja

bergelimang nyaman nikmat dunia

singgasana menggerusnya hingga alpa

 

Ulama Bhisma merenung di senjakala

ia gamang dalam titah dan langkah

para kesatria dan pengikutnya terbelah-belah

maka disuarakanlah fatwa seperti dulu kala

tapi kata-katanya hampa tak bernyawa

didengar raja tapi tak diindahkan adanya

seperti burung dipelihara untuk pajangan istana

 

 

Raja bersuara didengar seluruh kawula

katanya menghormati panutan dan fatwa-fatwa

tapi Ulama Bhisma meratap hatinya

bagai tersayat sejuta luka

hilang harga oleh kecutnya cuka

segala fatwa tak digubris dan hampa

seperti buih di pasir yang segera musnah

Ulama Bhisma dijadikan bantalan istana

atau seperti kembang di meja makan para raja

biar sedap dipandang saat bersantap dan dahaga

seusai itu dibuang ke keranjang sampah

 

Ulama Bhisma memuncak jengah

lidahnya musnah tak lagi bersuara

ada satu terdengar di akhir kata:

tak mungkin ada matahari dua, katanya

sebagai pertanda kalau ia telah kalah

 

Oh birahi tipuan dunia

senasiblah dengan Ulama Durna

menjelang akhir baratayuda

Ulama Bhisma dilempar raja ke medan laga

mempertahankan angkara dinasti dan kuasa

melawan para kesatria dan anak cucunya

Ulama Bhisma pun menebus karmanya

maka berkelebatlah si cantik rupa

terpedaya oleh janji dan kata-kata

Ulama Bhisma terkunci langkahnya

dari depan marabahaya menerjangi tubuhnya

ia jatuh terjengkang disanggah ribuan anak panah

bumi menolak jasadnya di akhir kisah

padang kurusetra menamatkan riwayatnya

 

Januari 2020

 

Ulama Bhisma terkunci langkahnya merupakan sebuah puisi yang mengisahkan tentang guru Bhisma dalam pertempuran akbar di dataran keramat Kurukshetra. Secara garis besar puisi tersebut bercerita mengenai Bhisma, Di lingkungan keraton Hastinapura, Estetika dalam puisi ini, cerita diatas terbungkus dengan lirik yang shaydu dah lembut. Melahirkan perbedaan tafsiran pada setiap pembacanya. Terlihat dalam bait pertama hingga ke tujuh:

 

Ulama Bhisma adalah guru para kesatria

tutur langkahnya dianut para kawula

tapi seusai perjudian tahta curang durjana

ia memilih hidup dalam tembok istana

segala hajat hidup dipenuhi raja

bergelimang nyaman nikmat dunia

singgasana menggerusnya hingga alpa

 

Pada bait diatas, Bisma sangat dihormati oleh anak Cucunya. Tidak hanya karena ia tua, namun juga karena kemahirannya Dalam bidang militer dan peperangan. Dalam setiap pertempuran, pastilah Ia selalu menang karena sudah sangat berpengalaman. Yudistira juga pernah mengatakan, bahwa tidak ada yang sanggup Menaklukkan Bisma dalam pertempuran, bahkan apabila laskar Dewa dan Laskar Asura menggabungkan kekuatan dan dipimpin oleh Indra, Sang Dewa Perang. Bisma sangat dicintai oleh Pandawa maupun Kurawa. Mereka Menghormatinya sebagai seorang kakek sekaligus kepala keluarga yang Bijaksana. Kadangkala Pandawa menganggap Bisma sebagai ayah mereka (Pandu), Yang sebenarnya telah wafat.

 

Ulama Bhisma merenung di senjakala

ia gamang dalam titah dan langkah

para kesatria dan pengikutnya terbelah-belah

maka disuarakanlah fatwa seperti dulu kala

tapi kata-katanya hampa tak bernyawa

didengar raja tapi tak diindahkan adanya

seperti burung dipelihara untuk pajangan istana

 

    Saat perang antara Pandawa dan Kurawa meletus, Bisma berada di pihak Kurawa. Sesaat sebelum pertempuran, ia berkata kepada Yudistira bahwa dirinya Telah diperbudak oleh kekayaan, dan dengan kekayaannya Kurawa mengikat Bisma. Meskipun demikian, karena Yudistira telah melakukan penghormatan Sebelum pertempuran, maka Bisma merestui Yudistira dan berdo’a agar Kemenangan berada di pihak Pandawa, meskipun Bisma sangat sulit untuk  Bisma juga pernah berkata kepada Duryodana, bahwa meski dirinya (Bisma) memihak Kurawa kemenangan sudah pasti berada di pihak Pandawa karena Kresna berada di sana, dan dimanapun ada Kresna maka di sanalah terdapat kebenaran serta keberuntungan dan dimanapun ada Arjuna, di sanalah terdapat kejayaan.


Raja bersuara didengar seluruh kawula

katanya menghormati panutan dan fatwa-fatwa

tapi Ulama Bhisma meratap hatinya

bagai tersayat sejuta luka

hilang harga oleh kecutnya cuka

segala fatwa tak digubris dan hampa

seperti buih di pasir yang segera musnah

Ulama Bhisma dijadikan bantalan istana

atau seperti kembang di meja makan para raja

biar sedap dipandang saat bersantap dan dahaga

seusai itu dibuang ke keranjang sampah

 

Meskipun Arjuna mendapatkan kesempatan untuk melawan Bisma, namun ia sering bertarung dengan setengah hati, mengingat bahwa Bisma adalah kakek kandungnya sendiri. Hal yang sama juga dirasakan oleh Bisma, yang masih sayang dengan Arjuna, cucu yang sangat dicintainya. Kresna yang menjadi kusir kereta Arjuna dalam peperangan, menjadi marah dengan sikap Arjuna yang masih segan untuk menghabisi nyawa Bisma, dan ia nekat untuk menghabisi nyawa Bisma dengan tangannya sendiri. Dengan mata yang menyorot tajam memancarkan kemarahan, ia memutar-mutar Chakra di atas tangannya dan memusatkan perhatian untuk membidik leher Bisma. Bisma tidak menghindar, namun justru bahagia jika gugur di tangan Madhawa (Kresna).

Melihat hal itu, Arjuna menyusul Kresna dan berusaha menarik kaki Kresna untuk menghentikan langkahnya. Dengan sedih dan suara tersendat-sendat, Arjuna berkata, "O Kesawa (Kresna) janganlah paduka memalsukan kata-kata yang telah paduka ucapkan sebelumnya! Paduka telah mengucapkan janji bahwa tidak akan ikut berperang. O Madhawa (Kresna) apabila paduka melanjutkan niat paduka, orang-orang akan mengatakan bahwa paduka pembohong. Semua penderitaan akibat perang ini, hambalah yang harus menanggungnya! Hambalah yang akan membunuh kakek yang terhormat itu!.." Krisna tidak menjawab setelah mendengar kata-kata Arjuna, ia mengurungkan niatnya dan naik kembali ke atas keretanya. Kedua pasukan tersebut melanjutkan kembali pertarungannya.

 

 

Ulama Bhisma memuncak jengah

lidahnya musnah tak lagi bersuara

ada satu terdengar di akhir kata:

tak mungkin ada matahari dua, katanya

sebagai pertanda kalau ia telah kalah

 

Bisma juga mengatakan apabila pihak Pandawa ingin mengalahkannya, mereka harus menempatkan seseorang yang membuat Bisma enggan untuk bertarung di depan kereta Arjuna, karena ia yakin hanya Arjuna dan Kresna yang mampu mengalahkannya dalam peperangan. Dengan bersembunyi di belakang orang yang membuat Bisma enggan berperang, arjuna harus mampu melumpuhkan Bisma dengan panah-panahnya. Berpedoman kepada pernyataan tersebut, Kresna menyadarkan arjuna akan kewajibannya. Meski arjuna masih segan, namun ia menuntaskan tugas tersebut.

 

Oh birahi tipuan dunia

senasiblah dengan Ulama Durna

menjelang akhir baratayuda

Ulama Bhisma dilempar raja ke medan laga

mempertahankan angkara dinasti dan kuasa

melawan para kesatria dan anak cucunya

Ulama Bhisma pun menebus karmanya

maka berkelebatlah si cantik rupa

terpedaya oleh janji dan kata-kata

Ulama Bhisma terkunci langkahnya

dari depan marabahaya menerjangi tubuhnya

ia jatuh terjengkang disanggah ribuan anak panah

bumi menolak jasadnya di akhir kisah

padang kurusetra menamatkan riwayatnya

 

Dikatakan senasib dengan Ulama Durma karena Ulama Durma juga ditumbangkan dengan memakai strategi penyerangan dengan menggunakan kelemahan yang dimilikinya, Ulama Durma dengan kelemahan Aswatama meninggal dan Guru Bhisma dengan kelemahannya yakni sebuah pantangan yang ia jadikan sebagai pondasi. Pada hari kesepuluh, Srikandi menyerang Bisma, namun Bisma tidak melawan. Di belakang Srikandi, Arjuna menembakkan panah panahnya yang dahsyat dan melumpuhkan Bisma. Panah-panah tersebut menancap dan Menembus baju zirahnya, kemudian Bisma terjatuh dari  keretanya, tetapi badannya tidak menyentuh tanah karena ditopang oleh puluhan panah yang menancap di tubuhnya. Namun Bisma tidak gugur seketika karena ia boleh menentukan waktu kematiannya sendiri. Bisma menghembuskan napasnya setelah ia menyaksikan kehancuran pasukan Kurawa dan setelah ia memberikan wejangan suci kepada Yudistira setelah perang Bharatayuddha selesai.

Puisi diatas mengandung unsur kekerasan, baik dari segi fisik maupun mental. Kekejian sebuh bentuk balas dendam yang tak mengenal status terlihat sangat jelas bila diperhatikan secara mendalam dari segi kisah sebenarnya. Namun jika pembaca tidak teliti akan penafsiran pada setiap baitnya, saya dapat meyakini bahwa pembaca akan sulit menemukan unsur kekerasan tersebut. Karena penulis membungkus unsur kekerasan tersebut dalam kalam yang lembut sehingga menyamarkan noda kekerasan yang dikandungnya. Pemilihan majas dan rima puisi yang tegas serta lirik yang menurut saya membuat pembaca menerka-nerka makna puisi menjadi letak estetika yang kuat bagi saya.

0 Komentar

Terima kasih telah singgah sejenak dan membaca aksara di serambi sastra.

Saatnya berbuat dan berkarya, susun rencana sekarang juga, mulailah secepatnya. -Najwa Shihab