Estetika Kekerasan
Berbicara
mengenai inspirasi, Inspirasi secara umum adalah dorongan yang muncul pada seseorang
yang mampu merangsang pikiran manusia untuk melakukan tindakan yang berhubungan
dengan hal kreatif. Inspirasi dapat muncul kapan saja dan dimana saja bahkan
secara tiba-tiba. Tapi kemunculan inspirasi juga dapat kita rangsang oleh
sesuatu, meski tidak pasti kapan munculnya. Untuk merangsang kemunculan
inspirasi kita bisa melakukan sesuatu seperti mendengar, merasakan, ataupun
melakukan suatu tindakan secara langsung. Begitu pula pada sumber inspirasi
dalam menulis dan berkarya, datangnya bisa dari kehidupan sehari-hari baik yang
di dengar, dirasakan dan juga datang dari suatu tindakan langsung maupun tidak
langsung karena ada banyak hal yang terjadi di sekitar kita dan itu dapat
diangkat menjadi sebuah karya. Intinya cerita yang relevan justru menarik
atensi masyarakat.
Contoh
inspirasi yang muncul dari merasakan dan timbul dari keresahan: muatan cerita
model sastra seperti novel, cerpen, puisi, Syair. dsb. yang bermaterikan kekerasan sudah menjadi tema aktual
untuk dibicarakan sepanjang waktu, banyak kasus yang bisa mendasari adanya
sebuah kekerasan dalam suatu lingkungan atau hubungan. Rentetan kisah yang
melatarbelakangi nya mampu melahirkan sebuah inspirasi bagi pendengar maupun
penglihatannya Sehingga beberapa sastrawan memutuskan untuk menggelandang tema
kekerasan tersebut dan Ia lukiskan kisahnya dengan gaya yang unik sesuai khas
dalam diri mereka sebagai sebuah jati diri. Contoh kasus nya dalam puisi karya
bapak M. Shoim Anwar yang bertajuk:
Ulama
Bhisma Terkunci Langkahnya.
Ulama Bhisma adalah guru
para kesatria
tutur langkahnya dianut
para kawula
tapi seusai perjudian
tahta curang durjana
ia memilih hidup dalam
tembok istana
segala hajat hidup
dipenuhi raja
bergelimang nyaman nikmat
dunia
singgasana menggerusnya
hingga alpa
Ulama Bhisma merenung di
senjakala
ia gamang dalam titah dan
langkah
para kesatria dan
pengikutnya terbelah-belah
maka disuarakanlah fatwa
seperti dulu kala
tapi kata-katanya hampa
tak bernyawa
didengar raja tapi tak
diindahkan adanya
seperti burung dipelihara
untuk pajangan istana
Raja bersuara didengar
seluruh kawula
katanya menghormati
panutan dan fatwa-fatwa
tapi Ulama Bhisma meratap
hatinya
bagai tersayat sejuta luka
hilang harga oleh kecutnya
cuka
segala fatwa tak digubris
dan hampa
seperti buih di pasir yang
segera musnah
Ulama Bhisma dijadikan
bantalan istana
atau seperti kembang di
meja makan para raja
biar sedap dipandang saat
bersantap dan dahaga
seusai itu dibuang ke
keranjang sampah
Ulama Bhisma memuncak
jengah
lidahnya musnah tak lagi
bersuara
ada satu terdengar di
akhir kata:
tak mungkin ada matahari
dua, katanya
sebagai pertanda kalau ia
telah kalah
Oh birahi tipuan dunia
senasiblah dengan Ulama
Durna
menjelang akhir baratayuda
Ulama Bhisma dilempar raja
ke medan laga
mempertahankan angkara
dinasti dan kuasa
melawan para kesatria dan
anak cucunya
Ulama Bhisma pun menebus
karmanya
maka berkelebatlah si
cantik rupa
terpedaya oleh janji dan
kata-kata
Ulama Bhisma terkunci
langkahnya
dari depan marabahaya
menerjangi tubuhnya
ia jatuh terjengkang
disanggah ribuan anak panah
bumi menolak jasadnya di
akhir kisah
padang kurusetra
menamatkan riwayatnya
Januari 2020
Ulama Bhisma terkunci
langkahnya merupakan sebuah puisi yang mengisahkan tentang guru Bhisma dalam
pertempuran akbar di dataran keramat Kurukshetra. Secara garis besar puisi
tersebut bercerita mengenai Bhisma, Di lingkungan keraton Hastinapura, Estetika
dalam puisi ini, cerita diatas terbungkus dengan lirik yang shaydu dah lembut.
Melahirkan perbedaan tafsiran pada setiap pembacanya. Terlihat dalam bait
pertama hingga ke tujuh:
Ulama Bhisma adalah
guru para kesatria
tutur langkahnya dianut
para kawula
tapi seusai perjudian
tahta curang durjana
ia memilih hidup dalam
tembok istana
segala hajat hidup
dipenuhi raja
bergelimang nyaman
nikmat dunia
singgasana menggerusnya
hingga alpa
Pada bait diatas, Bisma
sangat dihormati oleh anak Cucunya.
Tidak hanya karena ia tua, namun juga karena kemahirannya Dalam bidang militer dan peperangan.
Dalam setiap pertempuran, pastilah Ia
selalu menang karena sudah sangat berpengalaman. Yudistira juga pernah mengatakan, bahwa tidak ada yang sanggup Menaklukkan Bisma dalam pertempuran,
bahkan apabila laskar Dewa dan Laskar
Asura menggabungkan kekuatan dan dipimpin oleh Indra, Sang Dewa Perang. Bisma sangat dicintai oleh
Pandawa maupun Kurawa. Mereka Menghormatinya
sebagai seorang kakek sekaligus kepala keluarga yang Bijaksana. Kadangkala
Pandawa menganggap Bisma sebagai ayah mereka (Pandu), Yang sebenarnya telah wafat.
Ulama Bhisma merenung
di senjakala
ia gamang dalam titah
dan langkah
para kesatria dan
pengikutnya terbelah-belah
maka disuarakanlah
fatwa seperti dulu kala
tapi kata-katanya hampa
tak bernyawa
didengar raja tapi tak
diindahkan adanya
seperti burung
dipelihara untuk pajangan istana
Saat perang antara Pandawa dan Kurawa meletus, Bisma berada di pihak Kurawa. Sesaat sebelum pertempuran, ia berkata kepada Yudistira bahwa dirinya Telah diperbudak oleh kekayaan, dan dengan kekayaannya Kurawa mengikat Bisma. Meskipun demikian, karena Yudistira telah melakukan penghormatan Sebelum pertempuran, maka Bisma merestui Yudistira dan berdo’a agar Kemenangan berada di pihak Pandawa, meskipun Bisma sangat sulit untuk Bisma juga pernah berkata kepada Duryodana, bahwa meski dirinya (Bisma) memihak Kurawa kemenangan sudah pasti berada di pihak Pandawa karena Kresna berada di sana, dan dimanapun ada Kresna maka di sanalah terdapat kebenaran serta keberuntungan dan dimanapun ada Arjuna, di sanalah terdapat kejayaan.
Raja bersuara didengar
seluruh kawula
katanya menghormati
panutan dan fatwa-fatwa
tapi Ulama Bhisma
meratap hatinya
bagai tersayat sejuta
luka
hilang harga oleh
kecutnya cuka
segala fatwa tak
digubris dan hampa
seperti buih di pasir
yang segera musnah
Ulama Bhisma dijadikan
bantalan istana
atau seperti kembang di
meja makan para raja
biar sedap dipandang
saat bersantap dan dahaga
seusai itu dibuang ke
keranjang sampah
Meskipun Arjuna mendapatkan kesempatan untuk melawan Bisma, namun ia sering bertarung dengan setengah hati, mengingat bahwa Bisma adalah kakek kandungnya sendiri. Hal yang sama juga dirasakan oleh Bisma, yang masih sayang dengan Arjuna, cucu yang sangat dicintainya. Kresna yang menjadi kusir kereta Arjuna dalam peperangan, menjadi marah dengan sikap Arjuna yang masih segan untuk menghabisi nyawa Bisma, dan ia nekat untuk menghabisi nyawa Bisma dengan tangannya sendiri. Dengan mata yang menyorot tajam memancarkan kemarahan, ia memutar-mutar Chakra di atas tangannya dan memusatkan perhatian untuk membidik leher Bisma. Bisma tidak menghindar, namun justru bahagia jika gugur di tangan Madhawa (Kresna).
Melihat hal itu, Arjuna menyusul Kresna dan berusaha menarik kaki Kresna untuk menghentikan langkahnya. Dengan sedih dan suara tersendat-sendat, Arjuna berkata, "O Kesawa (Kresna) janganlah paduka memalsukan kata-kata yang telah paduka ucapkan sebelumnya! Paduka telah mengucapkan janji bahwa tidak akan ikut berperang. O Madhawa (Kresna) apabila paduka melanjutkan niat paduka, orang-orang akan mengatakan bahwa paduka pembohong. Semua penderitaan akibat perang ini, hambalah yang harus menanggungnya! Hambalah yang akan membunuh kakek yang terhormat itu!.." Krisna tidak menjawab setelah mendengar kata-kata Arjuna, ia mengurungkan niatnya dan naik kembali ke atas keretanya. Kedua pasukan tersebut melanjutkan kembali pertarungannya.
Ulama Bhisma memuncak
jengah
lidahnya musnah tak
lagi bersuara
ada satu terdengar di
akhir kata:
tak mungkin ada
matahari dua, katanya
sebagai pertanda kalau
ia telah kalah
Bisma juga
mengatakan apabila pihak Pandawa ingin mengalahkannya, mereka harus menempatkan
seseorang yang membuat Bisma enggan untuk bertarung di depan kereta Arjuna,
karena ia yakin hanya Arjuna dan Kresna yang mampu mengalahkannya dalam
peperangan. Dengan bersembunyi di belakang orang yang membuat Bisma enggan
berperang, arjuna harus mampu melumpuhkan Bisma dengan panah-panahnya.
Berpedoman kepada pernyataan tersebut, Kresna menyadarkan arjuna akan
kewajibannya. Meski arjuna masih segan, namun ia menuntaskan tugas tersebut.
Oh birahi tipuan dunia
senasiblah dengan Ulama
Durna
menjelang akhir
baratayuda
Ulama Bhisma dilempar
raja ke medan laga
mempertahankan angkara
dinasti dan kuasa
melawan para kesatria
dan anak cucunya
Ulama Bhisma pun
menebus karmanya
maka berkelebatlah si
cantik rupa
terpedaya oleh janji
dan kata-kata
Ulama Bhisma terkunci
langkahnya
dari depan marabahaya
menerjangi tubuhnya
ia jatuh terjengkang
disanggah ribuan anak panah
bumi menolak jasadnya
di akhir kisah
padang kurusetra
menamatkan riwayatnya
Dikatakan senasib dengan Ulama Durma karena Ulama Durma juga ditumbangkan dengan memakai strategi penyerangan dengan menggunakan kelemahan yang dimilikinya, Ulama Durma dengan kelemahan Aswatama meninggal dan Guru Bhisma dengan kelemahannya yakni sebuah pantangan yang ia jadikan sebagai pondasi. Pada hari kesepuluh, Srikandi menyerang Bisma, namun Bisma tidak melawan. Di belakang Srikandi, Arjuna menembakkan panah panahnya yang dahsyat dan melumpuhkan Bisma. Panah-panah tersebut menancap dan Menembus baju zirahnya, kemudian Bisma terjatuh dari keretanya, tetapi badannya tidak menyentuh tanah karena ditopang oleh puluhan panah yang menancap di tubuhnya. Namun Bisma tidak gugur seketika karena ia boleh menentukan waktu kematiannya sendiri. Bisma menghembuskan napasnya setelah ia menyaksikan kehancuran pasukan Kurawa dan setelah ia memberikan wejangan suci kepada Yudistira setelah perang Bharatayuddha selesai.
Puisi diatas
mengandung unsur kekerasan, baik dari segi fisik maupun mental. Kekejian sebuh
bentuk balas dendam yang tak mengenal status terlihat sangat jelas bila
diperhatikan secara mendalam dari segi kisah sebenarnya. Namun jika pembaca
tidak teliti akan penafsiran pada setiap baitnya, saya dapat meyakini bahwa
pembaca akan sulit menemukan unsur kekerasan tersebut. Karena penulis
membungkus unsur kekerasan tersebut dalam kalam yang lembut sehingga
menyamarkan noda kekerasan yang dikandungnya. Pemilihan majas dan rima puisi
yang tegas serta lirik yang menurut saya membuat pembaca menerka-nerka makna
puisi menjadi letak estetika yang kuat bagi saya.

0 Komentar
Halo kamu.. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk singgah dan membaca. Kritik serta saran juga penulis butukan untuk mengembangkan segala aspek pendukung dalam blog ini. Tulis komentar mu dengan bahasa yang baik ya^^ karena segala sesuatu yang baik akan memberikan buah yang baik pula kepada mu.