ANALISIS ESTETIKA PUISI Chairil Anwar Kerawang-Bekasi



1.      Apakah estetika puisi tersebut masih relevan saat ini? (uraian harus disertai bukti).

Ya, estetika dalam puisi dari Chairil Anwar dengan judul Kerawang-Bekasi mengandung banyak unsur estetika yang masih relevan hingga saat ini. Relevansi tersebut dibuktikan dari kata:”Teruskan, teruskan jiwa kami”, pada kalimat itu perjuangan harus dilanjukan meskipun banyak korban yang berjatuhan. Sedang yang dimaksud dengan “jiwa kami” adalah semangat dari para pendahulu yang telah gugur di medan perang supaya dapat dilanjutkan oleh generasi yang akan datang. “Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian” Pada kalimat diatas sangat tegas sekali pernyataan atau tujuan dari Sang Penyair yaitu supaya kita selalu konsisten dengan pernyataan kita, ucapan kita, janji-janji kita, sumpah kita dan semua yang pernah kita ucapkan dan pada kata “impian” mengandung makna suatu cita-cita. Kita harus punya impian yang sesuai dengan kondisi kita. Impian itu tidak lain adalah cita-cita bangsa kita. “Teruskan, teruskan jiwa kami” “Menjaga Bung Karno,menjaga Bung Hatta, menjaga Bung Sjahrir” Pada kalimat diatas yaitu “Teruskan, teruskan jiwa kami. Menjaga Bung Karno, menjaga Bung Hatta, menjaga Bung Sjahrir” mengandung makna kesetian rakyat kepada para pemimpinnya. Pejuangan tidak akan berhasil, cita-cita tidak akan tercapai kalau tidak ada kesetiaan antara rakyat dengan pemimpinnya.

Himbauan agar selalu berjuang demi negara serta ajakan,pengharapan pada kita untuk senantiasa tidak melupakan perjuangan dari para pendahulu kita, walaupun para pejuang tersebut telah gugur. Pernyataan tersebut sangat lah relevan untuk masa sekarang bahkan di masa depan pun relevansinya tetap akan hadir.

2.      Apakah isi puisi tersebut sesuai dengan estetika dari sisi bentuknya?  (uraian harus disertai bukti)

Terdapat beberapa unsur yang perlu diperhatikan dalam mengkaji nilai estetika suatu objek, salah satunya adalah unsur bentuk. Bentuk “shape” sangat berpengaruh pada daya tarik suatu objek, secara umum bentuk objek terdiri dari dua jenis yaitu dua dimensi dan tiga dimensi. Objek terbentuk dua dimensi tidak memiliki volume dan bentuknya datar, misalnya lukisan, foto, hiasan dinding dan lainnya. Objek berbentuk tiga dimensi memiliki volume, kedalaman, dan ruang. Misalnya patung, pakaian, tas dan lainnya. Namun dalam sebuah karya sastra yang berbentuk tulisan, unsur bentuk tersebut memiliki beberapa objek, seperti tema, rasa, nada, tujuan, imaji, bahasa kiasan, citraan, rima, diksi, amanat.

Setelah membaca dari berbagai sumber dan menganalisis objek-objek dalam unsur bentuk tersebut saya dapat menyimpulkan bahwa, isi puisi tersebut sesuai dengan estetika dari sisi bentuknya. Salah satu bentuk unsur estetika terlihat pada tema, bahasa kiasan dan citraan. Berikut bukti-buktinya:

1)      Tema: tema pada puisi Karawang - Bekasi adalah “perjuangan para pahlawan yang telah gugur dalam medan perang dan terbaring antara Kota Krawang sampai Kota Bekasi”. Hal ini dapat dilihat pada baris pertama dan terakhir pada puisi. Yaitu pada baris pertama “Kami yang kini terbaring antara Karawang-Bekasi” dan pada baris terakhir “Beribu kami terbaring antara Karawang-Bekasi”.

2)      Bahasa Kiasan: Pada puisi Karawang – Bekasi memiliki berbagai majas, diantaranya

a.       Majas metonimia, seperti yang ada dalam kalimat “Kami cuma tulang-tulang berserakan”.

b.      Majas metafora yaitu pada kalimat “Atau jiwa kami melayang untuk kemerdekaan kemenanga dan harapan atau tidak untuk apa-apa”.

c.       Majas sinekdoki yaitu pada kalimat “Jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak”.

3)      Citraan: Pada puisi Karawang – Bekasi memiliki beberapa citraan. Diantaranya

a.       Citraan pendengaran dalam kalimat “Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak”.

b.      Citraan penglihatan yaitu dalam kalimat “Beribu kami terbaring antara Krawang-Bekasi”.

c.       Citraan garak dalam kalinmat “Kami sudah coba apa yang kami bisa”.

d.      Citraan kesedihan yang tergambar pada kalimat “Kenang, kenanglah kami yang tinggal tulang – tulang diliputi debu”.

e.       Citraan lingkungan pada kalimat “Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi”

 

3.      Puisi berkaitan bertemakan perubahan.

Penyilap Ulung

karya: Yety lailaturohmah (2021)


Kabut yang halus mengikis jiwa yang kalut
Berpayung lentera merah tak nyawa
Mereka bilang, aku ini si pembuat topeng Durjana
Bahagia ku buat sandiwara
Duka ku buat sayembara

Tepat pukul tujuh seperempat
Aku duduk bersilah bak sedang rapat
Menghisap cerutu bias ku yang hangat
Sambil menaik turunkan bidai gawai yang sepat

Aku tak perlu lagi mengayuh sepeda
Apalagi berbaur di warung untuk melihat berita
Dunia bukan gila
Hanya saja dia sudah tau harus berbuat apa

kini alterasi semakin gamblang terlihat
Banyak orang menjual hati serta diri
Dengan bibir dan jari
Menawarkan janji yang siap asuransi

Penyilap itu datang menghampiri ku
Merangkul bahu dan Membelai fantasi ku
Ia membisikan gaham memilukan
"Kau adalah ragaku, mana mungkin jiwa tercabut dari akar yang tak berongga"

Darahku tak terkesiap lagi
Jika cambuk mendera di tulang belulang
Aku akan menyebut namamu berulang-ulang
Dengan penuh kantong cenayang
Tolong cam kan

0 Komentar

Terima kasih telah singgah sejenak dan membaca aksara di serambi sastra.

Saatnya berbuat dan berkarya, susun rencana sekarang juga, mulailah secepatnya. -Najwa Shihab