Puisi Angkatan Balai Pustaka (Angkatan 20) dan Angkatan Pujangga Baru
(Angkatan 30)
Dalam sejarah sastra indonesia, angkatan balai
pustaka (angkatan '20) dibedakan dengan angkatan pujangga baru
(angkatan '30). Benarkah keduanya berbeda? Buktikan melalui
estetika dua puisi berikut (perbedaan dan persamaannya)!
1. Benarkah keduanya berbeda?
Ya,
pasti berbeda. Karena karya sastra yang muncul di suatu periode, tentunya akan
berbeda dengan karya sastra muncul di periode yang lain, termasuk angkatan balai pustaka (angkatan '20) dengan yang
angkatan pujangga baru (angkatan '30).
Karena periode merupakan istilah yang cukup luas (sudah termasuk soal angkatan
di dalamnya) yang menekankan perkembangan sebuah karya pada masa tertentu dari
berbagai sudut pandang; pengaruh politik, perubahan paradigma sastrawan, dan
perkembangan sastrawan. Dalam suatu periode sastra indonesia mungkin saja kita
menemukan aktivitas yang lebih dari satu golongan pengarang yang mempunyai
konsepsi yang berbeda beda. Perbedaan norma umum dalam sastra sebagai pengaruh
situasi suatu zaman, yang mungkin menimbulkan suasana baru dalam kehidupan
sastra tanpa melahirkan suatu konsepsi sastra baru yang dirumuskan oleh
seseorang atau sekelompok sastrawan.
2. Buktikan melalui estetika dua puisi!
Karya 1: Estetika Puisi Mengeluh I & II. Oleh Rustam Effendi
Dari segi bentuk:
·
Gaya bahasanya menggunakan perumpamaan
klise, pepatah-pepatah, dan peribahasa namun sudah berbeda dengan bahasa
hikayat lama karena sudah menggunakan bahasa percakapan sehari-hari; Sajak ini tidak
mempunyai semangat menyala seperti misalnya sajak-sajak cinta tanah air muhammad yamin. Rustam memang lebih realistis daripada yamin yang tenggelam
dalam pemujaan keluhuran serta keagungan bangsanya di masa silam: rustam
melihat betapa keadaan bangsanya yang “setiap saat disimbur sukar bermandi
darah, dicucurkan dendam.” Bagaimana ia akan bersuka cita melihat keadaan
seperti itu, karena ratapan rakyatnya menyatu kalbu.
· Ba’mana beta bersuka cita,ratapun rakyat riuhan gaduh, membobos masuk menyapu kalbuku. Perulangan bunyi konsonan pada kutipan diatas antara lain; /beta/, dan /bersuka cita/ serta /membobos/ dan /masuk/. Sedangkan yang kedua adalah verifikasi yan mencangkup rima, baris atau larik, dan satuan bentuk puisi. Puisi angkatan Balai Pustaka menggunakan rima rangkai. Barisnya biasanya berisikan 14 baris karena satuan bentuk puisi ini berupa soneta.
Dari
segi isi:
·
Bahasa
yang digunakan pada periode angkatan Balai Pustaka yang sering muncul adalah
bahasa melayu tinggi, bahasa melayu tinggi sulit dipahami bagi kita karena
sekarang bahasa yang kita gunakan bukanlah bahasa melayu. Seperti kutipan dalam
puisi berikut: “Suara
sebat sedanan rusuh, Menghimpit masah, gubahan cintaku.” (Mengeluh I)
·
Diksi
atau pemilihan kata sangat berpengaruh dalam konstruksi puisi hubunganya dengan
komposisi bunyi, sebagai contoh dalam puisi ”Mengeluh” Rustam Effendi menulis salah satu
baris berbunyi: Bukanlah beta berpijak bunga,/melalui hidup menuju
makam./Setiap saat disimbur sukar/bermandi darah dicucurkan dendam. Maka
kata dalam baris itu tidak dapat dibolak balik karena akan merusak
kontruksinnya. /disimbur sukar/ yang dalam bahasa Indonesia memiliki
arti simbur/sim·bur/ v, membuang air dan sebagainya ke atas dengan tangan;
memercik(kan) banyak-banyak. su.kar susah; sulit dipecahkan atau diselesaikan.
·
Pada
angkatan Balai Pustaka bahasa puisinya bersifat konotatif atau bermakna
konotasi, atau memiliki kemungkinan memiliki arti lebih dari satu seperti
kutipan berikut ini: /berharta bukan berhakpun bukan/, /Inilah nasib negeri
anda/, /memerah madu menguruskan badan./. Ungkapan /madu/ pada kutipan
diatas memiliki kemungkinan makna yang lebih dari satu, bisa berarti tenaga,
harta, kekuasaan serta hak bangsa ataupun tumpah darah sesuai dengan koherensi
makna sebelumnya. Kata konkret seperti, /memerah/, /madu/ yang digunakan
berfungsi sebagai imaji bagi pembaca supaya berdaya bayang tinggi sehingga
seolah-olah merasakan sendiri. Adapun karakteristik yang menyangkut bahasa kias
yakni /memerah madu menguruskan badan /. Memerah disini memiliki fungsi
pengganti untuk seluruh tindakan yang dilakukan penjajah dalam upaya
menyengsarakan masyarakat di seluruh bangsa. Sedangkan /madu/ disitu mewakili
seluruh hak masyarakat yang direnggut, selain bahasa kias dalam karakteristik
juga terdapat imajeri, dan sarana retorika. Contoh imajeri taktil /setiap
saat disimbur sukar/, dan sarana retorika /bermandi darah bermandikan
dendam/, yang bermakna hiperbola.
·
Karakteristik
isi puisi mencangkup tema, nada, dan suasana, perasaan dalam puisi, amanat, dan
nilai puisi. Tema yang dipajkai pada angkatan Balai Pustaka berkutat pada
masalah nasionalisme. Seperti yang termuat dalam puisi Bahasa Bangsa, Bukan
Beta Bijak Berperi, Tanah Air, Mengeluh. Adanya pesan penyair dalam angkatan
ini begitu kuat untuk bersatu, mencintai tanah air dan semangat nasionalisme. Seperti
dalam puisi Mengeluh, penyair mengungkapkan bahwa Indonesia adalah suatu
keadaan yang diibaratkan bunga yang cantik menawan akan tetapi bangsanya sangat
menderita karena penjajah. Kutipan puisi Mengeluh, /Bukanlah beta berpijak
bunga/, /Melalui hidup menuju makam/, /Setiap saat disimbur sukar/, /Bermandi
darah dicucurkan dendam/. Amanat yang terkandung dalam puisi angkatan Balai
Pustaka adalah adanya keinginan untuk mempersatukan bangsa untuk bisa bebas
dari belnggu penjajah Hindia Belanda, sehingga Indonesia mampu hidup makmur.
Nilai yang muncul pada angkatan Balai Pustaka yang diwakili oleh Muhammad Yamin
dan Roestam Effendi adalah kecintaan terhadap tanah air.
Karya 2: Estetika Puisi Sebab Dikau. Karya: Amir Mamzah.
Dari segi bentuk:
1. Kata-katanya
menggunakan kata-kata yang indah.
Terlihat
dalam bait yang berbunyi “membunga
cinta dalam hatiku, mewangi sari dalam jantungku” dalam
bait pertama maksudnya adalah sang penulis mempunyai tujuan hidup hanya untuk
mencintai wanitanya, rasa cinta yang diibartkan bunga seperti semakin
menjadi-jadi tumbuh di hatinya hingga akhirnya cinta sang penulis kepada
gadisnya membuahkan hasil yang sangat indah.
2. Gaya
sajaknya diafan atau polos, hubungan antara kalimat jelas, hampir tidak
digunakan kata yang ambigu seperti simbolik atau metafora implisit;
Terlihat
dalam bait ke empat, yakni “aku boneka engkau boneka, penghibur dalang
mengatur tembang, di layar kembang bertukar pandang, hanya selagu, sepanjang
dendang.” Dalam bait tersebut penulis mengungkapkan bahwa ia dan gadisnya
diibaratkan boneka/wayang, mereka bertemu dan merindu dan bercerita dan
kisahnya sangat singkat.
3. Persajakan
(rima) merupakan salah satu saran kepuitisan utama.
Dalam
bait terakhir puisi, terlihat penyair memainkan rima a b a b dalam bait yang
berbunyi “golek gemilang ditukarnya pula, aku engkau di kotak terletak, aku
boneka engkau boneka, penyelang dalang mengarak sajak”. Penulis meniratkan
makna dalam bait ini, penulis ingin mengungkapkan bahwa setelah kita
bersandiwara sekaligus memainkan ribuan tokoh yang berbeda, kita ada saatnya
akan berhenti untuk bersandiwara, karena tuhan (allah) telah menyelesaikan
cerita kita.
Dari
segi isi:
·
Makna puisi pada penggalan dibawah ini:
Bait 1
Kasihkan hidup sebab dikau (1)
Segala kuntum mengoyak kepak (2)
Membunga cinta dalam hatiku (3)
Mewangi sari dalam jantungku (4)
Kutipan puisi
“Sebab Dikau” diatas dapat dideskripsikan perubahan maknanya menggunakan jenis
perubahan makna metafora yaitu pemakaian kata tertentu untuk objek atau konsep
lain berdasarkan kias atau persamaannya. Pada bait pertama baris ke 2 “Segala
kuntum mengoyak kepak” semua harapan itu menjadi mekar,
terbuka, sebagai kuntum bunga yang mekar. Berkaitan dengan baris 1 “Kasihkan
hidup sebab dikau” bahwa si aku senang atau kasih akan hidup dengan kekasihnya.
Pada baris ke 3 “Membunga cinta dalam hatiku” pada
kalimat membunga cinta bahwa hati si aku tumbuh cinta dan mekar . pada baris ke
4 “Mewangi sari dalam jantungku” di dalam jantungnya tercium bau
bunga yang wangi. pada bait 1 menandakan bahwa rasa senangnya memuncak, maka
semua akan menjadi indah, ibaratkan bunga yang mekar dan harum mewangi terasa
sampai jantung dan hati.
Bait 2
Hidup seperti mimpi (1)
Laku lakon di layar terkelar (2)
Aku pemimpi lagi penari (3)
Sedar siuman bertukar-tukar (4)
Pada bait kedua
dalam kutipan puisi “Sebab Dikau” dapat dianalisis perubahan maknanya dengan menggunakan
peningkatan makna atau ameliorisasi yaitu proses perubahan makna yang
mengakibatkan makna yang baru dirasakan lebih tinggi, hormat, atau baik
nilainya daripada makna yang lama atau semula. Pada bait kedua baris ke 2 pada
kata “lakon” lebih baik daripada pemain utama dan pada baris ke 4 kata
“siuman” lebih baik daripadasadar.
Bait 3
Aku boneka engkau boneka (1)
Penghibur dalang mengatur tembang (2)
Di layar kembang bertukar pandang (3)
Hanya selagu, sepanjang dendang (4)
Pada
bait ketiga pada puisi “Sebab Dikau” merupakan perubahan makna metafora yaitu
proses perubahan makna sebagai akibat kiasan. Pada bait ketiga baris ke 1 “Aku
boneka engkau boneka” pada kata boneka itu merupakan kiasan
manusia bahwa boneka itu merupakan benda mati yang memiliki bentuk tetapi tidak
mempunyai akal seperti manusia. Pada baris ke 2 “Penghibur dalang mengatur
tembang” pada kata dalang itu merupakan kiasan Tuhan yang berkuasa atas hidup
dan matinya manusia serta sebagai pengatur bumi dan segala isinya. Pada
baris ke 3 “Di layar kembang bertukar pandang” pada kata layar
terkembang merupakan kiasan dari dibalik kehidupan sebenarnya yang
dijalani. Berkaitan dengan bait selanjutnya “Hanya selagu, sepanjang
dendang” bahwa hidup ini hanya selagu dan sepanjang dendang yaitu
sangat singkat.
3.
Setelah pembahasan
diatas, nampak perbedaan dan persamaan yang terletak pada kedua periode
tersebut, berikut penjelasannya:
|
Aspek |
Balai Pustaka (Ang. 20-an) |
Pujangga Baru (Ang. 30-an) |
|
Perbedaan |
Berisi
peristiwa- peristiwa sosial, kehidupan adat-istiadat, kehidupan agama,
ataupun peristiwa kehidupan masyarakat lainnya banyak yang direkam. Mengeluh I & II melukiskan kehidupan
masyarakat Indonesia, spesifik pada kesengsaraan rakyat akibat penjajahan. |
memancarkan
jiwa yang dinamis, individualistis, dan tidak terikat dengan tradisi,
serta seni harus berorientasi pada kepentingan masyarakat. Terlihat
pada puisi Sebab Dikau diatas, dibuktikan dengan penyebutan “Aku” serta arti keseluruhan puisi yang bersifat
pribadi. |
|
Dari
segi isi, puisi Mengeluh berisi ucapan perasaan pribadi seorang
manusia. Dibuktikan dengan banyak nya penggunaan kata “beta” disetiap
bait puisi Mengeluh I & II. |
Dari
segi isi, puisi sebab dikau beraliran romantis idialis, bentuk puisi dan prosa lebih terikat oleh
kaidah-kaidah serta mementingkan
penggunaan bahasa yang indah-indah. pembuktian: “Kasihkan hidup sebab dikau |
|
|
Dari
segi bentuk, jumlah barisnya sudah tidak empat, seperti syair dan
pantun, dan persajakkannya (rima) tidak sama. Dapat dibuktikan dengan
melihat bait puisi ke 3&4 dalam Mengeluh I& II. |
Dari
segi bentuk, puisi angkatan ini masih terikat jumlah baris tiap
bait dan nama puisinya berdasarkan jumlah baris tiap baitnya. Dalam
puisi Sebab Dikau diatas
termasuk kwatryn/quatrain
(4 seuntai), artinya setiap bait terdiri atas empat buah kalimat atau
baris dan bersajak a-b-a-b, a-a-a-a. |
|
|
Persamaan |
Karya sastra yang
muncul di suatu periode, tentunya akan berbeda dengan karya sastra yang
muncul di periode yang lain, termasuk pada angkatan balai pustaka dengan
pujangga baru yang pastinya memiliki perbedaan secara signifikan. Oleh sebab itulah
karya sastra digolongkan dalam periode-periode sastra, karena periodisasi
sastra merupakan kesatuan waktu dalam perkembangan sastra yang dikuasai oleh
suatu sistem norma yang tertentu atau kesatuan waktu yang memiliki sifat dan
cara pengucapan yang khas yang berbeda dengan masa sebelumnya. Periode merupakan
kurun waktu yang ditentukan oleh kesamaan ciri khas bagian terbesar karya
sastra yang diciptakan sezaman, misalnya periode 20-an menghasilkan puisi Mengeluh
I&II karya Rustam Effendi kemudian periode 30-an
menghasilkan puisi Sebab Dikau karya Amir Mamzah. Berdasarkan dari
periodisasi tersebut, sebenarnya tidak ada perbedaan yang prinsipil antara
periodisasi yang satu dan yang lain. Kesemuanya memulai perkembangan sastra
Indonesia Modern sejak tahun 20-an. Kesemuanya menempatkan tahun '30, tahun
'45 dan tahun '66 sebagai tonggak-tonggak penting dalam perkembangan sastra.
Perbedaan hanya berkisar pada masalah istilah dan masalah peranan tahun 1942
dan tahun 1950 di dalam perkembangan Sastra Indonesia. Namun
masalah
periodisasi itu tidak begitu penting buat para sastrawan. Ada beberapa
pengarang yang tidak mau dimasukkan ke dalam salah satu angkatan karena
dipandang akan membatasi dan mempersempit kebebasan daya kreativitasnya. |
|

0 Komentar
Halo kamu.. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk singgah dan membaca. Kritik serta saran juga penulis butukan untuk mengembangkan segala aspek pendukung dalam blog ini. Tulis komentar mu dengan bahasa yang baik ya^^ karena segala sesuatu yang baik akan memberikan buah yang baik pula kepada mu.