ANALISIS ESTETIKA CERPEN TUAN GEDIBAL- M.Shoim Anwar


Dalam cerpen Tuan Gedibal ini, pengarang menceritakan tentang seorang tokoh sentral yakni Tuan Gedibal. Dikisahkan mulai dari tingkah laku, karakteristik, kebiasaan, hingga rasa kehormatan serta kesetiaan terhadap Nyonya Titi selaku pemilik perusahaan tempat Tuan Gedibal bekerja. Perilaku demikian yang menjadi sentrum dalam cerpen ini, pembuktian dapat dilihat dari permulaan cerpen hingga cara pengarang mengakhiri kisah dalam cerpen nya.

Kisah yang dituangkan pengarang sangatlah relevan dengan kehidupan sebenarnya. Penuh dengan kisah moral dan tersirat juga beberapa etika yang tak jarang orang bisa melakukannya, selayaknya Tuan Gedibal. Seperti yang kita ketahui, pada umumnya estetikalah yang tersubordinasikan terhadap etika dan logika. Artinya, suatu benda disebut indah apabila juga mengandung nilai etika dan logika. Apakah pembaca sudah dapat menebak letak estetika yang saya maksudkan dalam cerpen Tuan Gedibal ini? Jika kalian belum menemukannya, mari lanjut ke pembahasannya.

Seperti pertanyataan diatas, estetikalah yang tersubordinasikan terhadap etika. Artinya suatu benda disebut indah juga mengandung nilai etika (moral). Jika estetika dibandingkan dengan etika, maka etika yang berkaitan dengan nilai yang berkaitan dengan baik-buruk, sedangkan estetika yang berkaitan dengan indah-jelek. Estetika sastra adalah aspek-aspek yang terkandung dalam sastra. Pada umumnya, aspek keindahan sastra didominasi oleh gaya bahasa. Keindahan bahasa tidak terkandung dalam keindahan bentuk huruf melainkan dalam isinya.

Dikaitkan dengan sifat-sifat dasar yang dimilikinya, demikian juga relevansinya dalam kehidupan bermasyarakat, maka estetika, etika, dan logika disebut sebagai trilogi indah-baik-benar. Sebagai aktivitas kreatif yang didominasi oleh imajinasi, karya sastra juga menampilkan nilai logika. Secara intrinsik setiap karya sastra adalah entitas yang cukup diri, dihasilkan oleh subjek kreator, dalam ruang dan waktu tertentu. Karya sastra dengan logika tampak lebih dekat dalam karya sastra lama, sama halnya dengan hubungan karya sastra dengan etika. Karya sastra tidak secara keseluruhan merupakan imajinasi. Banyak unsur karya sastra yang bersifat logis, bahkan benar dalam pengertian sesungguhnya, sebagai kebenaran pembuktian.

Tuan Gedibal bukanlah seorang yang berpendidikan tinggi dan memiliki keterampilan seperti pegawai Nyonya Titi yang mampu bekerja extra serta membantu menghasilkan pendapatan yang tinggi untuknya. Tuan Gedibal hanya seorang kepala rumah tangga yang memiliki tiga orang anak yang memiliki kelainan serta seorang istri yang tak berpenghasilan karena sibuk mengurus ketiga anaknya, ia hanya mempu memberikan tenaga dan kesetian yang tinggi terhadap Nyonya Titi yang mana hal tersebut tak mampu diberikan oleh pegawai yang lain. Seperti pada realitanya, ada beberapa orang yang mimilih menyugukan rasa hormat serta kesetiaannya dalam bekerja serta melayani seseorang tanpa pamrih karena hanya ketekunan serta suguhan yang demikan yang ia miliki. Namun acap kali orang melihat sebelah mata dan mencari celah untuk mencemooh serta menduga hal yang tak semestinya.

Perihal tersebutlah yang sering kali membuat pegawai Nyonya Titi merasa iri hati karena merasa Tuan Gedibal sanggup membegal peran, mereka merasa dilangkahi karena perannya diambil alih secara sepihak, bahkan Nyonya Titi lebih percaya pada Tuan Gedibal dibanding pada anaknya sendiri. Banyak pegawai Nyonya Titi yang menggunjingkan nya, dia sengaja ngantor pagi-pagi agar terhindar dari urusan rumah. Namun dia tidak pernah dikukuhkan sebagai asisten pribadi, tapi perannya melebihi itu semua. Tak ada yang bisa menggugat. 

Unsur Etika ditampakkan secara jelas dalam beberapa perilaku yang di tunjukkan oleh tokoh Tuan Gedibal ini, seperti:

“Tuan Gedibal selalu tiba di kantor paling pagi. Dia duduk di lobi dekat pintu sambil menunggu datangnya pimpinan. Ketika melihat beliau datang, Tuan Gedibal dengan sigap berlari membukakan pintu mobil, menyalami dan mencium tangan dengan sangat sopan. Seperti biasa juga, meski tanpa dukungan, Tuan Gedibal membawakan tasnya.”

”Ketika tak ada tanda-tanda Nyonya Titi meminta sesuatu, Tuan Gedibal beranjak turun ke halaman. Tuan Gedibal segera memindahkan mobilnya, diparkir tepat di sebelah kiri mobil Nyonya Titi. Posisi ini wajib untuk setiap harinya.”

“Tuan Gedibal selalu tiba di kantor paling pagi, bahkan lebih pagi dibanding tukang sapu. Tuan Gedibal pun pulang paling akhir seusai yang menghantarkan kepulangan Nyonya Titi.”

“Tiba-tiba sal yang melilit di leher Nyonya Titi ujungnya jatuh ke meja, bibir bibir piring. Tuan Gedibal meraihnya dengan sopan dan pelan. Sal itu kembali dililitkan ke leher sang perempuan. Ada beberapa butiran nasi yang jatuh dekat piring. Tuan Gedibal memunguti dan meletakkan di atas tisu.”

Jika keindahan sastra terkandung dibalik huruf-huruf yang tampak, Aspek estetika yang jauh lebih penting ditimbulkan melalui keseimbangan antarunsur karya, Umpan dalam puisi, dialog dan improvisasi dalam drama, nada dan irama suara tukang cerita dalam dongeng. Secara fisik, aspek estetika paling jelas melalui kover buku. Maka, Tuan Gedibal memiliki Estetika yang timbul dalam tabir perilaku hormat serta kesetiaan terhadap petingginya, Nyonya Titi.

Pengarang mencawiskan cerita dengan sangat matang dan indah, penuh makna serta kuat eksistensinya dalam dunia sebenarnya. Namun ending cerita yang terlihat menggantung jika hanya disajikan sedemikian rupa. Saya sebagai pembaca, ingin mendapat ending yang lebih klimaks dan di luar persangkaan umumnya. Saya menaruh sedikit juriga dengan tokoh Tuan Gedibal. Apakah benar Nyonya Titi meninggal bukan karena ulah Tuan Gedibal? Mengapa ketika Nyonya Titi tampak menegang dan sepasang mata di balik kaca mata nampaknya melebar Ia berujar “Maafkan saya, Ibu….” ?

 

0 Komentar

Terima kasih telah singgah sejenak dan membaca aksara di serambi sastra.

Saatnya berbuat dan berkarya, susun rencana sekarang juga, mulailah secepatnya. -Najwa Shihab