Dalam cerpen Tuan Gedibal ini, pengarang menceritakan tentang seorang tokoh sentral yakni Tuan Gedibal. Dikisahkan mulai dari tingkah laku, karakteristik, kebiasaan, hingga rasa kehormatan serta kesetiaan terhadap Nyonya Titi selaku pemilik perusahaan tempat Tuan Gedibal bekerja. Perilaku demikian yang menjadi sentrum dalam cerpen ini, pembuktian dapat dilihat dari permulaan cerpen hingga cara pengarang mengakhiri kisah dalam cerpen nya.
Kisah yang dituangkan pengarang
sangatlah relevan dengan kehidupan sebenarnya. Penuh dengan kisah moral dan
tersirat juga beberapa etika yang tak jarang orang bisa melakukannya,
selayaknya Tuan Gedibal. Seperti yang kita ketahui, pada umumnya estetikalah
yang tersubordinasikan terhadap etika dan logika. Artinya, suatu benda disebut
indah apabila juga mengandung nilai etika dan logika. Apakah pembaca sudah
dapat menebak letak estetika yang saya maksudkan dalam cerpen Tuan Gedibal ini?
Jika kalian belum menemukannya, mari lanjut ke pembahasannya.
Seperti pertanyataan diatas, estetikalah yang
tersubordinasikan terhadap etika. Artinya suatu benda disebut indah juga
mengandung nilai etika (moral). Jika estetika dibandingkan dengan etika, maka
etika yang berkaitan dengan nilai yang berkaitan dengan baik-buruk, sedangkan
estetika yang berkaitan dengan indah-jelek. Estetika sastra adalah aspek-aspek
yang terkandung dalam sastra. Pada umumnya, aspek keindahan sastra didominasi
oleh gaya bahasa. Keindahan bahasa tidak terkandung dalam keindahan bentuk
huruf melainkan dalam isinya.
Dikaitkan dengan sifat-sifat dasar yang
dimilikinya, demikian juga relevansinya dalam kehidupan bermasyarakat, maka
estetika, etika, dan logika disebut sebagai trilogi indah-baik-benar. Sebagai aktivitas kreatif yang didominasi oleh
imajinasi, karya sastra juga menampilkan nilai logika. Secara intrinsik setiap
karya sastra adalah entitas yang cukup diri, dihasilkan oleh subjek kreator,
dalam ruang dan waktu tertentu. Karya sastra dengan logika tampak lebih dekat
dalam karya sastra lama, sama halnya dengan hubungan karya sastra dengan etika.
Karya sastra tidak secara keseluruhan merupakan imajinasi. Banyak unsur karya
sastra yang bersifat logis, bahkan benar dalam pengertian sesungguhnya, sebagai
kebenaran pembuktian.
Tuan Gedibal bukanlah seorang yang
berpendidikan tinggi dan memiliki keterampilan seperti pegawai Nyonya Titi yang
mampu bekerja extra serta membantu menghasilkan pendapatan yang tinggi untuknya.
Tuan Gedibal hanya seorang kepala rumah tangga yang memiliki tiga orang anak
yang memiliki kelainan serta seorang istri yang tak berpenghasilan karena sibuk
mengurus ketiga anaknya, ia hanya mempu memberikan tenaga dan kesetian yang
tinggi terhadap Nyonya Titi yang mana hal tersebut tak mampu diberikan oleh
pegawai yang lain. Seperti pada realitanya, ada beberapa orang yang mimilih
menyugukan rasa hormat serta kesetiaannya dalam bekerja serta melayani
seseorang tanpa pamrih karena hanya ketekunan serta suguhan yang demikan yang ia
miliki. Namun acap kali orang melihat sebelah mata dan mencari celah untuk mencemooh
serta menduga hal yang tak semestinya.
Perihal tersebutlah yang sering
kali membuat pegawai Nyonya Titi merasa iri hati karena merasa Tuan Gedibal sanggup
membegal peran, mereka merasa dilangkahi karena perannya diambil alih secara
sepihak, bahkan Nyonya Titi lebih percaya pada Tuan Gedibal dibanding pada
anaknya sendiri. Banyak pegawai Nyonya Titi yang menggunjingkan nya, dia
sengaja ngantor pagi-pagi agar terhindar dari urusan rumah. Namun dia tidak
pernah dikukuhkan sebagai asisten pribadi, tapi perannya melebihi itu
semua. Tak ada yang bisa menggugat.
Unsur Etika ditampakkan secara
jelas dalam beberapa perilaku yang di tunjukkan oleh tokoh Tuan Gedibal ini, seperti:
“Tuan Gedibal selalu tiba di kantor paling
pagi. Dia duduk di lobi dekat pintu sambil menunggu datangnya
pimpinan. Ketika melihat beliau datang, Tuan Gedibal dengan sigap berlari
membukakan pintu mobil, menyalami dan mencium tangan dengan sangat
sopan. Seperti biasa juga, meski tanpa dukungan, Tuan Gedibal membawakan
tasnya.”
”Ketika tak ada tanda-tanda Nyonya Titi meminta
sesuatu, Tuan Gedibal beranjak turun ke halaman. Tuan Gedibal segera
memindahkan mobilnya, diparkir tepat di sebelah kiri mobil Nyonya
Titi. Posisi ini wajib untuk setiap harinya.”
“Tuan Gedibal selalu tiba di kantor paling pagi,
bahkan lebih pagi dibanding tukang sapu. Tuan Gedibal pun pulang paling akhir
seusai yang menghantarkan kepulangan Nyonya Titi.”
“Tiba-tiba sal yang melilit di leher Nyonya Titi ujungnya
jatuh ke meja, bibir bibir piring. Tuan Gedibal meraihnya dengan sopan dan
pelan. Sal itu kembali dililitkan ke leher sang perempuan. Ada beberapa
butiran nasi yang jatuh dekat piring. Tuan Gedibal memunguti dan
meletakkan di atas tisu.”
Jika keindahan sastra terkandung dibalik
huruf-huruf yang tampak, Aspek estetika yang jauh lebih penting ditimbulkan
melalui keseimbangan antarunsur karya, Umpan dalam
puisi, dialog dan improvisasi dalam drama, nada dan irama suara tukang cerita
dalam dongeng. Secara fisik, aspek estetika paling jelas melalui kover buku.
Maka, Tuan Gedibal memiliki Estetika yang timbul dalam tabir perilaku hormat
serta kesetiaan terhadap petingginya, Nyonya Titi.
Pengarang mencawiskan cerita
dengan sangat matang dan indah, penuh makna serta kuat eksistensinya dalam
dunia sebenarnya. Namun ending cerita yang terlihat menggantung jika hanya
disajikan sedemikian rupa. Saya sebagai pembaca, ingin mendapat ending yang
lebih klimaks dan di luar persangkaan umumnya. Saya menaruh sedikit juriga
dengan tokoh Tuan Gedibal. Apakah benar Nyonya Titi meninggal bukan karena ulah
Tuan Gedibal? Mengapa ketika Nyonya Titi tampak menegang dan
sepasang mata di balik kaca mata nampaknya melebar Ia berujar “Maafkan saya, Ibu….” ?

0 Komentar
Halo kamu.. Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk singgah dan membaca. Kritik serta saran juga penulis butukan untuk mengembangkan segala aspek pendukung dalam blog ini. Tulis komentar mu dengan bahasa yang baik ya^^ karena segala sesuatu yang baik akan memberikan buah yang baik pula kepada mu.